Yen Terjun Bebas, Jepang Turun Tangan: Intervensi Pasar Dilakukan Jelang Keputusan BOJ
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Jepang kembali melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing dengan membeli yen dan menjual dolar AS untuk menahan pelemahan mata uang yang mencapai titik terendah dalam 40 tahun.
- Langkah ini diambil sehari sebelum Bank of Japan (BOJ) mengumumkan kebijakan suku bunga, di tengah tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi impor yang diperparah oleh konflik Iran.
- Intervensi sebelumnya sebesar 11,7 triliun yen pada April-Mei lalu hanya memberikan efek sementara, sehingga pelaku pasar kini menanti sinyal kenaikan suku bunga lebih lanjut dari BOJ.

Pemerintah Jepang akhirnya mengambil langkah intervensi langsung di pasar valuta asing pada Kamis (31/7) dengan membeli yen dan menjual dolar AS, menyusul pelemahan mata uang Negeri Sakura yang mencapai titik terendah dalam empat dekade. Langkah ini merupakan intervensi pertama dalam tiga bulan terakhir, di tengah kekhawatiran bahwa depresiasi yen akan memperburuk biaya hidup masyarakat yang sudah tertekan oleh lonjakan harga energi akibat perang Iran.
Keputusan intervensi diambil sehari sebelum Bank of Japan (BOJ) mengumumkan kebijakan moneternya pada Jumat (1/8). Pasar memperkirakan BOJ akan mempertahankan suku bunga acuan di level 1 persen, namun memberikan sinyal kesiapan untuk terus menaikkan biaya pinjaman. Menteri Keuangan AS Scott Bessent, seperti dilaporkan Fox Business Network, menyebut yen "tampak sangat undervalued" dan mengindikasikan bahwa Jepang mungkin telah melakukan intervensi. Sementara itu, harian Nikkei melaporkan bahwa otoritas AS juga melakukan "rate checks", yang biasanya menjadi pendahuluan intervensi mata uang.
Dolar AS langsung terpukul, merosot ke level terendah dalam lebih dari dua bulan terhadap yen, dari 159,22 menjadi 159,63 pada perdagangan Asia Jumat pagi. "Waktunya lebih cepat dari perkiraan saya, karena saya melihat peluang intervensi besar setelah pertemuan BOJ pada 30-31 Juli," ujar Toru Suehiro, ekonom utama di Daiwa Securities. Ia menambahkan, jika AS benar-benar melakukan rate checks dan mendukung pelemahan dolar, hal itu akan menguntungkan pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang cenderung dovish.
Pasar sebenarnya sudah lama bersiaga terhadap kemungkinan intervensi yen. Peringatan berulang dari Menteri Keuangan Satsuki Katayama tentang tindakan "tegas" gagal memberikan dorongan berkelanjutan bagi yen yang terus terpuruk. Kepala diplomat mata uang Atsushi Mimura, yang memutuskan kapan dan bagaimana intervensi dilakukan, memilih bungkam sejak aksi terakhir, membuat pasar terus menebak-nebak langkah Tokyo selanjutnya.
Konteks Indonesia: Pelemahan yen dan intervensi Jepang ini berimplikasi langsung pada perekonomian Indonesia. Sebagai mitra dagang utama, Jepang adalah salah satu investor terbesar di Indonesia, terutama di sektor manufaktur dan infrastruktur. Yen yang lemah membuat produk ekspor Jepang lebih murah, namun di sisi lain, Indonesia yang mengimpor barang modal dan komponen dari Jepang justru diuntungkan karena harga impor menjadi lebih terjangkau. Namun, jika intervensi ini gagal dan yen terus melemah, daya beli investor Jepang di Indonesia bisa tergerus, dan arus investasi langsung asing (FDI) dari Jepang berpotensi melambat. Bank Indonesia (BI) perlu mencermati dinamika ini karena pergerakan yen juga mempengaruhi nilai tukar rupiah melalui jalur perdagangan dan investasi.
Fokus pasar kini beralih ke pernyataan Gubernur BOJ Kazuo Ueda dalam konferensi pers setelah pertemuan kebijakan. Ueda berada di posisi sulit: di satu sisi, ia harus mengakomodasi pemerintahan Takaichi yang enggan menaikkan suku bunga terlalu cepat, namun di sisi lain, ia harus mencegah yen jatuh lebih dalam yang akan memicu inflasi impor. Laporan semi-tahunan Departemen Keuangan AS yang dirilis awal Juli lalu justru mendesak BOJ untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut, dengan alasan inflasi telah menggerus daya beli rumah tangga meskipun upah nominal naik signifikan.
Akankah intervensi kali ini berbeda? Dengan rekor intervensi sebelumnya yang hanya memberi efek sementara, pelaku pasar ragu bahwa aksi kali ini akan mampu membalikkan tren pelemahan yen dalam jangka panjang. Jawabannya mungkin akan bergantung pada seberapa hawkish Ueda dalam sinyal kenaikan suku bunga ke depan, dan apakah Washington benar-benar memberikan lampu hijau bagi Tokyo untuk terus melakukan intervensi.



