Lonjakan Saham Microsoft dan Penurunan Minyak Bawa Wall Street Bangkit
Baca dalam 60 detik
- Microsoft mencatat kenaikan saham lebih dari 15 persen berkat kinerja divisi cloud dan AI, mendorong Nasdaq naik 2,8 persen.
- Penurunan harga minyak dan harapan negosiasi Iran-AS turut menopang sentimen positif di pasar saham global.
- Kenaikan imbal hasil Treasury AS dan sikap hawkish The Fed masih menjadi risiko, namun investor mulai membedakan kinerja antar perusahaan.

Bursa saham Amerika Serikat berhasil membalikkan tekanan pada Kamis (30/7) setelah laporan keuangan Microsoft yang melampaui ekspektasi dan penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran investor terhadap kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Saham Microsoft melonjak lebih dari 15 persen, didorong oleh pendapatan dari divisi komputasi awan dan kecerdasan buatan (AI) yang solid, sekaligus mengangkat indeks Nasdaq hingga 2,8 persen.
Art Hogan, analis dari B. Riley Wealth Management, menilai antusiasme terhadap Microsoft dan sektor teknologi secara umum menjadi katalis utama pergerakan pasar. "Sebagian besar euforia datang dari Microsoft dan saham teknologi, dan itu membantu pergerakan indeks," ujarnya. Di sisi lain, harga minyak yang mulai melandai setelah komentar Pakistan bahwa negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung meski serangan meningkat, turut memberikan angin segar bagi pasar ekuitas.
Laporan keuangan Microsoft menjadi ujian penting di tengah kekhawatiran bahwa valuasi saham teknologi sudah terlalu tinggi setelah kenaikan besar Nasdaq pada kuartal kedua. Pekan ini, sejumlah raksasa teknologi seperti Meta Platforms (induk Facebook) justru merosot 8 persen karena investor khawatir dengan belanja AI yang membengkak. Namun, hasil Microsoft memberikan sedikit keyakinan bahwa investasi di AI masih menghasilkan imbal hasil. Chris Low dari FHN Financial mencatat, "Trader masih bisa membedakan kinerja antar perusahaan. Ini sinyal sehat karena menunjukkan pasar tidak sekadar mengikuti momentum."
Sebelumnya, pada Rabu (29/7), indeks utama Wall Street kehilangan lebih dari 1,5 persen setelah konferensi pers Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, dianggap tidak konsisten antara retorika stabilitas harga dan keputusan bank sentral untuk tidak menaikkan suku bunga. Meskipun imbal hasil Treasury masih tinggi, pasar berjangka menunjukkan keyakinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga tahun ini. Hogan menyebut keputusan tersebut sebagai "jeda hawkish" karena tiga anggota komite memberikan suara berbeda, menandakan dorongan untuk menaikkan suku bunga semakin kuat.
Di kawasan lain, Bank of England mempertahankan suku bunga acuan tanpa perubahan, namun memperingatkan inflasi Inggris berpotensi naik lagi akibat perang AS-Iran yang menjaga harga energi tetap tinggi. Bursa London yang sempat mendekati rekor 11.000 poin berkat minimnya saham teknologi, akhirnya melemah menjelang penutupan. Sementara itu, bursa Asia bergerak mixed; saham Korea Selatan masih tertekan meskipun Samsung Electronics mencatat lonjakan laba operasional kuartal II sebesar 19 kali lipat berkat permintaan chip memori untuk pusat data AI. Namun, harga saham Samsung justru ditutup lebih rendah. Adidas juga ambles hampir 11 persen di Frankfurt setelah laba di bawah ekspektasi akibat biaya pemasaran Piala Dunia.
Bagi investor Indonesia, pergerakan Wall Street ini menjadi sinyal bahwa sektor teknologi global masih menjadi primadona meskipun ada tekanan dari kebijakan moneter yang ketat. Namun, kenaikan imbal hasil obligasi AS berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Di sisi lain, penurunan harga minyak dapat meredakan tekanan inflasi domestik dan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menahan kenaikan suku bunga. Pertanyaan besarnya, apakah reli saham teknologi ini berkelanjutan atau hanya sekadar rebound sementara di tengah ketidakpastian perang dagang dan geopolitik?



