Trump Klaim Kesepakatan Pelucutan Senjata Hamas di Gaza: Langkah Bersejarah atau Sekadar Retorika?
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan pelucutan senjata Hamas secara bertahap melalui mediasi di Kairo, namun Israel menolak proposal awal karena dianggap tidak memadai.
- Kesepakatan ini melibatkan pembentukan Pemerintah Palestina baru dan Dewan Perdamaian, tetapi masih ada ketidaksepakatan soal definisi infrastruktur yang harus dibongkar.
- Jika berhasil, Gaza akan mengalami demiliterisasi total dan beralih ke administrasi sipil, namun serangan Israel terus berlanjut dan lebih dari 1.200 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (30/7) mengumumkan bahwa perundingan di Kairo antara mediator dan pemimpin Hamas telah menghasilkan kesepakatan bersejarah untuk pelucutan senjata secara menyeluruh. Dalam unggahan di media sosial, Trump menyebutnya sebagai langkah kritis menuju pemerintahan baru Palestina yang akan bekerja sama dengan Dewan Perdamaian. Namun, klaim ini langsung diuji oleh penolakan Israel terhadap proposal awal yang dinilai belum memenuhi tuntutan keamanan mereka.
Menurut sumber yang dekat dengan perundingan, kesepakatan tersebut mencakup penghapusan semua senjata berat dan ringan di Gaza, penghentian produksi amunisi, serta pembongkaran jaringan terowongan. Rencana ini juga mengatur penarikan pasukan Israel secara bertahap dan penempatan pasukan stabilisasi internasional. Namun, seorang pejabat Israel yang enggan disebut namanya menegaskan bahwa dokumen 15 poin yang diajukan tidak memberikan respons memuaskan terhadap tuntutan demiliterisasi total Jalur Gaza.
Di sisi lain, Hamas menyatakan siap memberikan respons positif, tetapi tidak secara eksplisit menyetujui pelucutan senjata penuh. Sumber internal Hamas menyebutkan kelompok itu bersedia menyimpan senjata berat di bawah badan Palestina, bukan menyerahkannya kepada Israel. Ketidakjelasan ini menjadi batu sandungan utama dalam negosiasi yang telah berlangsung empat bulan terakhir.
Konteks Indonesia: Kesepakatan ini berpotensi mempengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak dan arus investasi global. Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, memiliki kepentingan langsung terhadap penyelesaian konflik Palestina. Pemerintah Indonesia selama ini konsisten mendukung solusi dua negara dan penghentian kekerasan. Jika demiliterisasi Gaza berhasil, hal ini bisa membuka peluang bagi peningkatan peran Indonesia dalam misi perdamaian PBB di kawasan tersebut.
Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB, Anna Evstigneeva, menyatakan bahwa peta jalan yang disusun oleh utusan Trump, Nickolay Mladenov, belum mendapat dukungan dari Israel dan Hamas. Demiliterisasi Gaza tetap menjadi hambatan utama. Sementara itu, diplomat yang terlibat dalam perundingan Kairo mengatakan bahwa peta jalan tersebut didasarkan pada langkah timbal balik, bukan kepercayaan. Artinya, setiap konsesi harus dibalas dengan tindakan nyata di lapangan.
Di tengah optimisme Trump, realitas di Gaza masih jauh dari kata damai. Serangan Israel terus terjadi, dengan korban terbaru enam warga Palestina tewas pada hari yang sama saat pengumuman Trump. Militer Israel mengklaim menargetkan militan Hamas, namun korban sipil terus berjatuhan. Gencatan senjata yang berlaku memang menghentikan pertempuran skala penuh, tetapi tidak menghentikan serangan hampir setiap hari.
Pertanyaan besarnya: mampukah Dewan Perdamaian yang digagas Trump menjembatani perbedaan mendasar antara Israel dan Hamas? Atau akankah kesepakatan ini hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah panjang konflik Gaza yang tak kunjung usai? Dengan Israel yang terus memperluas pendudukan dan Hamas yang enggan meletakkan senjata sepenuhnya, jalan menuju perdamaian masih terjal dan penuh ketidakpastian.



