Gempa Kumamoto: WNI dan Warga Lokal Saling Bahu-membahu di Pengungsian
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi berkekuatan 7,1 SR mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, menyebabkan kerusakan parah dan ribuan warga mengungsi.
- Davina Putri, pekerja magang asal Indonesia, menjadi salah satu dari 109 pengungsi di SD Ryuhokuhigashi, mengandalkan bantuan komunitas setempat.
- Petani anggur setempat menyumbangkan hasil panen yang tidak terjual, menunjukkan solidaritas di tengah krisis.

Gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,1 skala Richter yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Selasa lalu tidak hanya merenggut ketenangan warga lokal, tetapi juga menguji solidaritas antarbangsa di tengah reruntuhan. Di kota Hikawa, salah satu wilayah terdampak paling parah, puluhan warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai peserta magang teknis justru menemukan kekuatan baru dalam kebersamaan dengan warga Jepang di pengungsian.
Davina Putri, 22 tahun, pekerja magang di perkebunan stroberi setempat, mengaku gempa tersebut adalah yang terbesar dalam hidupnya. "Guncangannya sangat intens, saya tidak pernah membayangkan akan mengalami gempa sebesar ini," ujarnya saat ditemui di pusat evakuasi SD Ryuhokuhigashi, tempat 109 pengungsi kini berlindung. Meski terbiasa dengan gempa kecil di Indonesia, Davina mengaku trauma dengan getaran susulan yang masih terjadi hingga kini.
Pusat evakuasi yang dilengkapi pendingin udara menjadi penyelamat bagi Davina dan tiga rekannya sesama WNI. "Saya sangat bersyukur bisa makan dan tidur nyaman. Semua ini berkat kerja sama dan dukungan komunitas lokal," katanya. Dengan bahasa Jepang yang dipelajari di tempat kerja, Davina bahkan bisa bertanya kepada petugas tentang menu makan siangโyang ternyata kari instanโsebuah momen kecil yang menghangatkan di tengah keterbatasan.
Kisah serupa datang dari pasangan petani anggur, Keisuke dan Misato Morita. Meski rumah mereka berantakan dan AC tidak berfungsi, mereka menyumbangkan beberapa kotak anggur yang tidak terjual ke pusat evakuasi. "Guncangan membuat kami terpental, dan anggur yang sudah dimuat ke mobil berjatuhan," kenang Misato. Keluarga itu kini tidur di mobil, berharap kehidupan normal segera kembali.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana, terutama bagi pekerja migran di luar negeri. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa Indonesia sendiri berada di kawasan rawan gempa, namun pengalaman WNI di Jepang bisa menjadi pelajaran berharga tentang manajemen evakuasi dan dukungan komunitas. "Saya takut gempa besar lain akan terjadi," kata Davina, yang berharap bisa kembali bekerja dan tinggal di rumahnya.
Di tengah keterbatasan, interaksi antarbudaya justru menguat. Davina dan rekan-rekannya sering berbincang dengan warga Jepang untuk melupakan ketakutan. "Kami saling membantu, setidaknya dengan berbicara," ujarnya. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah solidaritas ini bertahan lama setelah gempa mereda, atau justru menjadi fondasi bagi komunitas yang lebih tangguh?



