Kongres DAP di Tengah Tekanan: Analis Nilai Partai Perlu Perluas Basis Dukungan Melayu
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan di Negeri Sembilan dan Johor menegaskan tantangan DAP untuk menarik pemilih Melayu tanpa kehilangan dukungan tradisional Tionghoa.
- Aliansi Barisan Nasional-Perikatan Nasional mempersulit Pakatan Harapan merebut kembali kursi campuran pada pemilu mendatang.
- Kongres nasional DAP pada 16 Agustus berpotensi menjadi ajang evaluasi strategi partai di pemerintahan federal.

Hasil pemilihan umum di Negeri Sembilan yang berlangsung akhir pekan lalu menjadi perhatian utama menjelang kongres nasional DAP yang dijadwalkan pada 16 Agustus. Para pengamat politik menilai kongres tersebut berpotensi menjadi ajang tekanan bagi pengambilan keputusan yang lebih tegas terkait peran partai dalam pemerintahan federal. Kekalahan sekretaris jenderal DAP, Anthony Loke, di kursi Chennah, serta hasil pemilu Johor sebulan sebelumnya, memperkuat sinyal bahwa partai harus segera berbenah.
Menurut Dr. Lau Zhe Wei, asisten profesor dari Universitas Islam Internasional Malaysia, hasil pemilu di kedua negara bagian tersebut menggarisbawahi tantangan jangka panjang DAP: memperluas daya tarik di kalangan pemilih Melayu sambil mempertahankan dukungan tradisional dari komunitas Tionghoa. Lau menilai bahwa koalisi antara Barisan Nasional (BN) dan Perikatan Nasional (PN) telah membuat kursi-kursi campuran semakin sulit dimenangkan oleh Pakatan Harapan (PH). "Selama BN dan PN terus bekerja sama, PH akan kesulitan merebut kembali banyak kursi campuran yang dimenangkannya pada 2018," ujarnya.
Kongres nasional DAP yang semula dijadwalkan pada Juli akhirnya diundur ke 16 Agustus menyusul pembubaran dewan legislatif di Johor dan Negeri Sembilan. Penundaan ini memberi ruang bagi partai untuk mengevaluasi strategi politiknya di tengah dinamika politik yang berubah cepat. Namun, para analis memperingatkan bahwa hasil pemilu di Negeri Sembilan tidak serta-merta mencerminkan krisis kepemimpinan di tubuh DAP.
Lau menegaskan bahwa kinerja DAP tidak boleh dinilai hanya dari kekalahan Loke. Partai tersebut masih mendominasi konstituen mayoritas Tionghoa dengan memenangkan sembilan dari sebelas kursi yang diperebutkan di Negeri Sembilan. "Tantangan DAP bukan pada kepemimpinan, melainkan pada kemampuannya meraih dukungan lebih besar dari pemilih Melayu," jelasnya. Senada dengan itu, Dr. Ong Kian Ming, profesor tambahan dari Universitas Taylor's, menilai kekalahan Loke bukanlah penolakan terhadap kepemimpinannya. "Ujian yang lebih penting bagi kepemimpinan Anthony adalah pada pemilihan umum ke-16 (GE16). Untuk saat ini, masih terlalu dini untuk berspekulasi tentang perubahan kepemimpinan," katanya.
Ong juga meredam spekulasi bahwa kubu mantan sekretaris jenderal Lim Guan Eng akan memperoleh momentum signifikan dari hasil pemilu tersebut. Menurutnya, perubahan internal besar di DAP lebih mungkin terjadi setelah GE16. Sementara itu, analis politik dari Universitas Teknologi Malaysia, Prof. Madya Dr. Mazlan Ali, menilai bahwa kemunduran terbesar justru dialami oleh PKR dan Amanah yang gagal menarik dukungan Melayu. Ia memperkirakan bahwa di daerah pedesaan, BN dan PN menguasai sekitar 85% suara Melayu, sementara PH hanya memperoleh kurang dari 10%. Di perkotaan, perolehan suara Melayu untuk PH hanya sekitar 15%.
Mazlan menyarankan agar PH fokus membangun kembali kepercayaan publik dengan mengatasi masalah-masalah ekonomi sehari-hari dan meningkatkan implementasi kebijakan pemerintah. Kekhawatiran atas biaya hidup yang meningkat dan lemahnya penegakan hukum terhadap perusahaan asing disebut-sebut menjadi pemicu ketidakpuasan pemilih. "Pakatan harus berbenah dari sisi kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat," tegasnya.
Bagi Indonesia, dinamika politik di Malaysia ini relevan mengingat kedekatan hubungan kedua negara. Stabilitas politik Malaysia, terutama dalam hal kebijakan ekonomi dan investasi, dapat berdampak pada arus perdagangan dan kerja sama bilateral. Jika PH terus melemah, hal ini bisa mempengaruhi arah kebijakan luar negeri Malaysia, termasuk hubungannya dengan Indonesia di kawasan ASEAN.
Kongres DAP pada 16 Agustus mendatang akan menjadi momen penting untuk melihat bagaimana partai merespons tekanan elektoral ini. Akankah DAP mengambil langkah berani untuk memperluas basis dukungannya, atau justru semakin terkunci dalam posisi politik yang sempit? Pertanyaan ini akan menentukan arah politik Malaysia menuju GE16 yang diperkirakan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.



