Macklemore Donasikan Rp15 Miliar dari Tur Ed Sheeran untuk Palestina, Tantang Robert Kraft Ikut Menyumbang
Baca dalam 60 detik
- Macklemore menyatakan akan menyumbangkan seluruh pendapatan bersihnya sebesar $1 juta dari tur Loop Ed Sheeran kepada enam organisasi yang mendukung rakyat Palestina.
- Ia menantang Robert Kraft, pemilik New England Patriots dan Gillette Stadium, untuk menyamai donasi tersebut, setelah Kraft diduga melarang penampilan Macklemore di stadionnya.
- Aksi filantropi ini memicu diskusi tentang batas antara kebebasan berekspresi seniman dan tekanan komersial di industri hiburan global.

Rapper Macklemore mengumumkan akan menyumbangkan seluruh pendapatan bersihnya sebesar $1 juta (sekitar Rp15 miliar) dari tur Loop Ed Sheeran kepada enam organisasi yang bergerak mendukung rakyat Palestina. Keputusan ini diambil setelah ia dikeluarkan dari tur tersebut akibat pernyataannya yang menyuarakan "Free Palestine" di atas panggung MetLife Stadium, New Jersey, awal September lalu.
Pernyataan Macklemore saat membuka konser langsung menuai kontroversi. Ia mengaku salah satu alasan bergabung dalam tur adalah untuk menyampaikan pesan solidaritas bagi Palestina di stadion-stadion besar Amerika Serikat. Namun, reaksi keras datang dari berbagai pihak, termasuk sesama musisi seperti Pink dan Boy George. Manajemen tur kemudian memutuskan untuk mencabut keterlibatannya.
Melalui unggahan di Instagram pada Rabu (16/9), Macklemore menegaskan bahwa ia tidak ingin terlarut dalam polemik pribadi. Ia menekankan bahwa perhatian harus tetap tertuju pada rakyat Palestina yang menurutnya masih menjadi korban kekerasan dan pendudukan militer. "Saya akan menyumbangkan seluruh $1 juta pendapatan bersih saya dari Tur Loop Ed Sheeran kepada enam organisasi yang bekerja langsung untuk mendukung rakyat Palestina," tulisnya.
Dalam unggahan yang sama, Macklemore juga menyoroti jumlah korban anak-anak di Gaza. Ia mengklaim lebih dari 20.000 anak telah tewas, dan menegaskan bahwa ia tidak ingin kehilangan fokus pada penderitaan mereka. "Saya bukan korban. Ed Sheeran bukan korban. Pink bukan korban. Kami memiliki karier, uang, dan keamanan. Korban sebenarnya adalah rakyat Palestina," ujarnya.
Ia juga secara terbuka menantang Robert Kraft, pemilik New England Patriots dan Gillette Stadium, untuk menyamai donasinya. Kraft sebelumnya diduga memberi tahu Ed Sheeran bahwa Macklemore tidak diizinkan tampil di stadion miliknya. "Saya mengundang Robert Kraft untuk menyamai donasi saya. Apa pun perbedaan kita, mungkin kita bisa sepakat bahwa nyawa rakyat Palestina layak dilindungi," kata Macklemore.
"Saya bukan korban. Ed Sheeran bukan korban. Pink bukan korban. Kami memiliki karier, uang, dan keamanan. Korban sebenarnya adalah rakyat Palestina." โ Macklemore
Meski dikeluarkan dari tur, Macklemore menegaskan tidak menyalahkan Ed Sheeran. Ia memahami keputusan tersebut sebagai konsekuensi dari tekanan yang mungkin diterima tim Ed. "Ed Sheeran dan timnya memutuskan untuk mengeluarkan saya dari tur Loop. Saya tidak menyalahkannya," tulisnya.
Kasus ini menyoroti dinamika antara ekspresi politik seniman dan kepentingan bisnis di industri musik global. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi ketika musisi menyuarakan pandangan politik yang sensitif, misalnya terkait isu Papua atau konflik internasional. Meski tidak selalu berujung pada pembatalan tur, tekanan dari sponsor dan penyelenggara sering kali memaksa artis untuk menahan diri.
Bagi penggemar musik di Indonesia, langkah Macklemore bisa menjadi preseden tentang bagaimana solidaritas internasional dapat diwujudkan melalui aksi nyata, bukan sekadar pernyataan. Namun, tantangan tetap ada: apakah donasi semacam ini akan mendorong perubahan kebijakan, atau hanya menjadi gestur simbolis yang cepat menguap dari pemberitaan?
Ke depan, publik akan menantikan respons Robert Kraft dan pihak-pihak lain yang disebut dalam pernyataan Macklemore. Jika tantangan donasi itu diterima, gelombang dukungan untuk Palestina dari kalangan selebritas bisa semakin besar. Sebaliknya, jika diabaikan, diskusi tentang batas kebebasan berekspresi di panggung hiburan akan terus bergulir.



