Emily Campbell Pertahankan Emas Angkat Besi Commonwealth: Rekor Baru dan Semangat Juang
Baca dalam 60 detik
- Atlet Inggris Emily Campbell sukses mempertahankan medali emas kelas +86kg putri dengan total angkatan 278kg, memecahkan rekor Commonwealth.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Campbell di kancah internasional sekaligus menginspirasi atlet lain untuk menikmati proses berkompetisi.
- Kisah inspiratif juga datang dari Cyrille Tchatchet II yang meraih perak setelah 12 tahun lalu membelot dari tim Kamerun dan kini mewakili Inggris.

Emily Campbell, lifter Inggris peraih medali Olimpiade pertama untuk negaranya, kembali menunjukkan taringnya dengan mempertahankan gelar juara Commonwealth Games di kelas +86kg putri. Pada Kamis (3/8) waktu setempat, ia sukses mengangkat total 278kg, memecahkan rekor pesta olahraga tersebut, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu atlet angkat besi terkuat di dunia.
Campbell, yang meraih perak di Olimpiade Tokyo 2020, tampil gemilang di Armadillo Venue, Birmingham. Ia mencatat angkatan snatch 115kg dan clean and jerk 163kgโyang juga menjadi rekor baru Commonwealth. Penampilannya yang atraktif, dengan rambut dicat merah menyala dan kepang singa, menambah semarak kompetisi. "Saya ingin menunjukkan bahwa Anda bisa mencintai apa yang Anda lakukan dan tetap tampil luar biasa saat melakukannya," ujar Campbell usai pertandingan.
Kemenangan ini menjadi pembuktian konsistensi Campbell di usia 32 tahun. Ia mengaku masih menikmati setiap proses latihan dan pertandingan. "Alasan saya bertahan lama di olahraga ini karena saya benar-benar menikmati angkat besi," tambahnya. Atmosfer dukungan penonton yang luar biasa disebutnya sebagai energi tambahan yang membuatnya mampu melampaui batas.
Di sisi lain, kisah haru datang dari Cyrille Tchatchet II, lifter Inggris yang meraih medali perak di kelas 110kg putra. Pria 30 tahun itu mencatat total angkatan 374kg, hanya kalah dari Taniela Rainibogi asal Fiji (378kg). Namun, perjalanan Tchatchet jauh dari kata biasa. Dua belas tahun lalu, ia membelot dari tim Kamerun saat Commonwealth Games 2014 di Glasgow karena takut kembali ke tanah air. Setelah sempat tunawisma di Brighton, ia mendapat suaka dan kemudian mewakili Tim Pengungsi di Olimpiade Tokyo sebelum akhirnya membela Inggris.
Kisah Tchatchet menjadi simbol ketangguhan dan transformasi. Ia merayakan medali peraknya bersama sang ibu yang terbang dari Afrika untuk menyaksikan putranya bertanding. "Momen ini sangat berarti. Saya bangga bisa mewakili bendera Inggris dengan penuh kebanggaan," ujarnya.
Prestasi kedua atlet ini tidak hanya mengharumkan nama Inggris, tetapi juga memberikan inspirasi bagi atlet-atlet Indonesia. Dalam konteks domestik, keberhasilan Campbell dan Tchatchet menunjukkan pentingnya mental juara dan dukungan sistem pembinaan yang berkelanjutan. Indonesia, yang memiliki tradisi angkat besi kuat, dapat mengambil pelajaran dari konsistensi dan semangat pantang menyerah yang ditunjukkan kedua lifter ini. Pertanyaan selanjutnya: mampukah atlet angkat besi Indonesia meniru jejak mereka di ajang internasional?



