Kembalinya Joe Root ke Kapten Inggris: Motivasi Baru di Ujung Karier?
Baca dalam 60 detik
- Joe Root kembali memegang ban kapten tim tes Inggris setelah tiga tahun vakum, menggantikan Brendon McCullum yang dipecat.
- Michael Vaughan menilai peran ini bisa menjadi suntikan motivasi bagi Root yang kehilangan banyak rekan setim lamanya.
- Stephen Fleming ditunjuk sebagai pelatih kepala tes untuk empat tahun ke depan, termasuk dua seri Ashes, dengan harapan memperbaiki teknik batting Inggris.

Joe Root kembali dipercaya memimpin tim tes Inggris, sebuah keputusan yang oleh mantan kapten Michael Vaughan dinilai sebagai "pemicu motivasi" yang mungkin dibutuhkan pemain berusia 35 tahun itu di penghujung kariernya. Root, yang sebelumnya menjabat kapten dari 2017 hingga 2022 dengan 27 kemenangan dalam 65 pertandingan, kini akan memikul tanggung jawab itu lagi di bawah arahan pelatih interim Marcus Trescothick, sebelum Stephen Fleming mengambil alih pada tur Afrika Selatan musim dingin ini.
Vaughan, dalam podcast Test Match Special, mengungkapkan bahwa Root mungkin memerlukan "trigger" baru untuk membangkitkan antusiasmenya bermain kriket tes. "Dia tidak lagi memiliki banyak teman dekat di tim, banyak rekan setimnya sudah pensiun atau pergi. Jadi mungkin ini yang dia butuhkan," ujar Vaughan. Root sendiri pernah mengundurkan diri pada 2022 setelah kekalahan 10 wicket dari Hindia Barat, yang merupakan pertandingan kesembilan tanpa kemenangan, dengan alasan beban peran tersebut.
Menurut Vaughan, Root menerima "kartu yang buruk" selama masa kepemimpinannya. Ia ditunjuk saat Inggris fokus memenangkan Piala Dunia 50-over, lalu pandemi Covid-19 melanda. "Tur Karibia yang menjadi akhir masa jabatannya terlihat seperti pekerjaan yang terlalu berat baginya. Sekarang dia lebih tua, lebih bijaksana. Saya pikir Stephen Fleming akan membantu banyak hal yang biasanya menguras kapten—mengatur ruang ganti dan memastikan sisi taktik tim berjalan baik," tambah Vaughan.
Fleming, yang baru saja meninggalkan Chennai Super Kings setelah sembilan musim di IPL, dinilai Vaughan sebagai pilihan yang "sangat berpengalaman". Meski ada keraguan karena minim pengalaman di kriket bola merah, Vaughan menekankan kemampuan manajerial dan taktik Fleming. "Dia sangat dekat dengan McCullum. Mereka butuh seseorang yang bisa bekerja dengan McCullum, karena orang yang tidak tahu gaya Baz bisa membuat situasi kacau," kata Vaughan.
Namun, Vaughan juga mengkritik pendekatan "Bazball" yang agresif. "Saya bosan bicara soal gaya permainan. Yang ingin saya lihat adalah Inggris menang. Gaya apa pun yang tepat pada hari itu, sesi, jam, harus dimainkan untuk menang," tegasnya. Ia menyoroti kelemahan teknis batting Inggris, terutama dalam menghadapi bola length di sekitar off stump. "Teknik memenangkan pertandingan tes. Sisi teknis pemain Inggris sudah terbukti kurang. Mereka butuh pelatihan teknis yang lebih baik," tambah Vaughan.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan dinamika kepelatihan dan kepemimpinan di level tertinggi. Inggris, sebagai salah satu negara kriket utama, kerap menjadi tolok ukur bagi negara berkembang seperti Indonesia. Keputusan menunjuk Fleming—yang sukses di IPL—bisa menjadi contoh bagaimana pengalaman di liga T20 dapat diaplikasikan ke format tes. Namun, tantangan terbesar tetap pada perbaikan fundamental teknik batting, yang juga relevan bagi pemain Indonesia yang ingin bersaing di kancah internasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Root mampu membawa Inggris meraih Ashes tahun depan sambil mengejar rekor run Sachin Tendulkar. Atau justru beban kapten kembali menghambat performanya? Yang jelas, kombinasi Root-Fleming akan menjadi ujian bagi masa depan kriket tes Inggris.



