Regenerasi Timnas Brasil: Ancelotti Coret Neymar, Casemiro, dan Danilo
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Brasil Carlo Ancelotti memutuskan untuk tidak lagi memanggil Neymar, Casemiro, dan Danilo dalam skuad senior, menandai akhir dari satu generasi emas.
- Keputusan ini diambil untuk membangun tim yang lebih muda dan kompetitif, dengan target utama Copa America 2028, bukan Piala Dunia 2030.
- Ancelotti menegaskan komitmennya pada Brasil meskipun sempat didekati Federasi Sepak Bola Italia (FIGC).

Pelatih Timnas Brasil, Carlo Ancelotti, secara resmi mengakhiri era tiga pilar senior—Neymar, Casemiro, dan Danilo—dalam rencana jangka panjang Selecao. Dalam wawancara dengan penyiar Brasil ge, Ancelotti menegaskan bahwa tim nasional akan beralih ke generasi baru untuk menghadapi Copa America 2028.
Neymar (34 tahun) telah pensiun dari timnas setelah Brasil tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia 2026 oleh Norwegia. Sementara Casemiro (34) dan Danilo (35) belum mengumumkan pensiun, namun Ancelotti menilai usia mereka tidak lagi sejalan dengan proyek regenerasi. "Piala Dunia ini menandai akhir dari generasi pemain yang sangat penting. Mulai dari Neymar, Danilo, Casemiro, semua pemain yang berusia di atas 30 tahun," ujar Ancelotti.
Pelatih asal Italia itu menekankan bahwa target utama bukanlah Piala Dunia 2030, melainkan Copa America 2028. "Kami akan memetakan pemain baru yang bisa bersaing, bukan untuk Piala Dunia 2030, tetapi untuk target pertama, yaitu Copa America 2028," jelasnya. Brasil hanya sekali mencapai semifinal Piala Dunia sejak gelar kelima mereka pada 2002, dan terakhir menjuarai Copa America pada 2019.
Meski melakukan peremajaan, Ancelotti tidak akan menyingkirkan semua pemain senior. Ia menyebut Marquinhos sebagai contoh pemain yang tetap dipertahankan untuk menjaga kontinuitas. "Saya tidak akan mengganti semua 26 pemain. Kami akan mempertahankan beberapa pemain penting yang bisa melanjutkan pekerjaan, seperti Marquinhos. Idenya adalah perubahan, membawa generasi baru," tambahnya.
Keputusan Ancelotti ini juga menarik perhatian karena ia sempat didekati Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk menangani timnas Italia. Namun, Ancelotti menegaskan komitmennya pada Brasil. "Ada kontak dari federasi, tapi ini bukan soal kontrak, melainkan komitmen. Saya memiliki komitmen pada Brasil bukan karena saya menandatangani kontrak, tetapi karena setahun saya di sini, saya diterima dengan sangat baik, dan saya tidak ingin mengingkari komitmen itu," tegasnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah Ancelotti menjadi contoh bagaimana sebuah timnas besar berani melakukan regenerasi meskipun harus meninggalkan nama-nama besar. Di tengah hiruk-pikuk naturalisasi pemain keturunan, keputusan Brasil ini mengingatkan bahwa membangun tim jangka panjang membutuhkan keberanian untuk memulai dari awal. Pertanyaannya, mampukah Brasil menemukan pengganti sepadan Neymar dalam waktu singkat?



