Shania Twain: 'Tubuh Saya Tak Bisa Dipermalukan', Menolak Body Shaming di Usia 60
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi country Shania Twain menegaskan bahwa komentar negatif tentang tubuhnya tidak memengaruhinya, ia justru merayakan proses penuaan.
- Twain mengaku sempat kesulitan menerima perubahan fisik saat menopause, namun kini mengutamakan kesehatan dan kebugaran di atas penampilan.
- Cedera panggung pada 2019 menjadi titik balik yang mengubah pandangannya tentang tubuh dan pentingnya adaptasi gaya hidup.

Shania Twain, diva country berusia 60 tahun, dengan tegas menyatakan bahwa tubuhnya tidak bisa dipermalukan oleh siapa pun. Dalam wawancara terbaru dengan People, pelantun "Man! I Feel Like a Woman!" itu menolak keras praktik body shaming yang kerap dialami selebritas. Ia justru mengajak semua orang untuk menerima diri sendiri apa adanya, tanpa terjebak pada standar kecantikan semu.
"Saya tidak berusaha menjadi 30 tahun atau 25 tahun lagi. Itu tidak akan pernah terjadi," ujar Twain. Ia menyesali masa lalunya yang terlalu kritis terhadap penampilan, dan kini mendorong setiap individu untuk menikmati setiap fase kehidupan. Menurutnya, kesombongan tidak sepadan dengan siksaan batin yang ditimbulkan.
Twain mengakui bahwa masa menopause menjadi tantangan besar. Perubahan fisik seperti kulit kendur, lemak berlebih, dan kerutan sempat membuatnya enggan bercermin. Namun seiring waktu, ia belajar bahwa kesejahteraan adalah prioritas utama. "Setiap hari saya semakin tua; tonjolan dan kendur semakin jelas. Saya harus menerimanya," katanya.
Meski tetap aktif, Twain harus menyesuaikan aktivitas fisiknya. Ia tak lagi bermain tenis dengan intensitas seperti di usia 30-an karena risiko cedera. Pergelangan tangannya yang bermasalah akibat menanam pohon di masa muda membuatnya beralih ke pukulan backhand dua tangan. "Pukulannya lebih mematikan dari sebelumnya," ujarnya sambil tersenyum.
Pandangan Twain tentang tubuh berubah drastis setelah insiden di panggung Las Vegas tahun 2019. Saat itu ia merobek dua otot paha karena dehidrasi dan kurangnya asupan protein. "Saya tidak minum cukup air, tidak makan garam yang cukup, dan mengalami menopause yang berat. Itu kombinasi sempurna untuk bencana," kenangnya. Peristiwa itu menjadi alarm baginya untuk lebih memperhatikan kesehatan.
Di Indonesia, fenomena body shaming juga marak terjadi, terutama di kalangan selebritas dan publik figur. Banyak artis Tanah Air yang kerap mendapat komentar negatif tentang berat badan atau penampilan. Sikap tegas Shania Twain bisa menjadi contoh bahwa penuaan adalah proses alami yang harus dirayakan, bukan ditakuti. Para ahli kesehatan mental pun menekankan pentingnya penerimaan diri untuk mengurangi stres dan depresi.
Ke depan, Shania Twain berencana terus berkarya dan menikmati hidup tanpa terbebani opini orang lain. Pertanyaannya, mampukah industri hiburan dan masyarakat Indonesia mengadopsi sikap serupa dalam menghadapi tekanan standar kecantikan?



