Yen Meroket, Pasar Curiga Intervensi Jepang: Sinyal Kekhawatiran Global
Baca dalam 60 detik
- Yen menguat drastis hingga 2,5% dalam sehari, memicu dugaan intervensi langsung Bank of Japan.
- Langkah ini diambil di tengah tekanan inflasi energi dan suku bunga rendah Jepang yang melemahkan yen ke level terendah dalam 40 tahun.
- Jika terbukti intervensi, dampaknya bisa terasa di pasar Asia, termasuk Indonesia, melalui perubahan arus modal dan nilai tukar.

Nilai tukar yen Jepang melonjak tajam terhadap dolar AS pada Kamis (30/7), memicu spekulasi luas di kalangan pelaku pasar bahwa otoritas moneter Jepang telah turun tangan untuk menopang mata uang yang terpuruk. Pergerakan yang mencapai 2,5 persen dalam sehari ini menjadi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir dan langsung mengubah sentimen pasar global.
Yen sempat menyentuh level 157,8 per dolar, turun dari posisi sebelumnya di atas 161, sebelum akhirnya diperdagangkan di kisaran 158,61. Penguatan ini juga terjadi terhadap euro, poundsterling, dan dolar Australia. Para analis menilai besarnya pergerakan dalam waktu singkat sulit dijelaskan tanpa adanya intervensi langsung dari Kementerian Keuangan dan Bank of Japan (BOJ).
"Sulit membayangkan hal lain selain intervensi mata uang yang menyebabkan penurunan hingga 5 yen dalam waktu sesingkat itu," ujar Daisaku Ueno, kepala strategi FX di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities Tokyo. Ia menambahkan bahwa otoritas Jepang mungkin sengaja mengambil langkah di luar ekspektasi pasar yang memperkirakan intervensi baru akan dilakukan setelah pertemuan Federal Reserve dan BOJ.
Kekhawatiran terhadap pelemahan yen telah berlangsung berbulan-bulan. Jepang, yang sangat bergantung pada impor energi, mengalami tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak dan gas. Suku bunga yang tetap rendah membuat yen kurang menarik dibandingkan dolar AS yang didukung oleh suku bunga tinggi. Kondisi ini mendorong yen mendekati level terendah dalam 40 tahun.
Sejumlah analis melihat kesamaan dengan intervensi yang dilakukan Jepang pada musim panas 2024, ketika BOJ memanfaatkan pelemahan dolar setelah data inflasi AS yang rendah. "Otoritas Jepang mungkin melihat pesan yang membingungkan dari Warsh dan tekanan turun pada dolar sebagai peluang untuk mengubah momentum dolar/yen," kata Jonas Goltermann, kepala ekonom pasar di Capital Economics London. Ia memperingatkan potensi unwinding carry trade yang bisa memicu volatilitas lebih lanjut.
Namun, efektivitas intervensi ini masih dipertanyakan. "Apakah ini akan mengubah tren menuju penguatan yen masih diragukan," ujar Ueno. Spekulasi kenaikan suku bunga AS pada September masih ada, bersama dengan permintaan dolar sebagai safe haven. Pembelian dolar oleh importir dan investor melalui program NISA baru kemungkinan akan terus berlanjut.
Bagi Indonesia, gejolak yen bisa berdampak pada arus modal dan nilai tukar rupiah. Penguatan yen biasanya mendorong investor untuk mengurangi posisi dolar, yang bisa menguntungkan rupiah. Namun, jika intervensi ini hanya bersifat sementara, tekanan terhadap mata uang Asia lainnya bisa kembali muncul. Pasar akan mencermati langkah BOJ selanjutnya, termasuk kemungkinan penyesuaian kebijakan suku bunga.
"Pertanyaan kuncinya adalah apakah otoritas akan terus mendorong hingga dolar menembus level 155 yen. Itu akan menunjukkan seberapa serius pemerintah mempertahankan mata uangnya," kata Yuji Saito, penasihat eksekutif SBI FX Trade Tokyo.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada pertemuan BOJ yang dijadwalkan besok. Intervensi ini bisa menjadi upaya untuk mengurangi risiko volatilitas menjelang pengumuman kebijakan. Jika BOJ memberikan sinyal hawkish, yen bisa semakin menguat. Namun, jika hasil pertemuan mengecewakan, intervensi mungkin hanya menjadi penahan sementara. Akankah Jepang mampu membalikkan tren pelemahan yen, atau ini hanya jeda singkat sebelum tekanan kembali muncul?



