De Zerbi-Tonali Connection: 10 Menit yang Mengubah Sejarah Tottenham
Baca dalam 60 detik
- Sandro Tonali memutuskan pindah ke Tottenham hanya dalam 10 menit setelah bertemu Roberto de Zerbi, dengan ikatan masa kecil di Brescia sebagai kunci.
- Transfer senilai £100 juta ini menjadi rekor klub, mengalahkan minat dari klub lain yang lebih sukses, berkat pendekatan personal de Zerbi.
- Tonali menegaskan kepindahan bukan karena ketidakpuasan di Newcastle, melainkan demi karier dan keluarga, meski tekanan harga tinggi diakuinya.

Hanya butuh sepuluh menit bagi Sandro Tonali untuk mengubah peta persepakbolaan Inggris. Gelandang Italia berusia 26 tahun itu mengaku langsung yakin bergabung dengan Tottenham Hotspur setelah berbincang dengan manajer Roberto de Zerbi di rumahnya—sebuah keputusan yang melahirkan transfer termahal dalam sejarah klub London Utara, senilai £100 juta.
Kunci dari keputusan kilat itu ternyata sederhana: kesamaan nasib dan cinta pada Brescia, klub kecil yang bangkrut setelah terdegradasi ke kasta ketiga Italia. De Zerbi tumbuh sebagai suporter Brescia dan pernah bermain di sana, sementara Tonali memulai karier profesionalnya di klub yang sama. “Kami berbicara tentang Brescia, tentang situasi sulit yang dihadapi klub kami,” ujar Tonali dalam wawancara eksklusif. Ikatan emosional ini menjadi fondasi yang memuluskan negosiasi, meski Tottenham saat itu baru finis di peringkat ke-17 Liga Premier.
Proses transfer dimulai musim lalu ketika de Zerbi mengirim pesan teks kepada seorang teman bersama, menanyakan apakah Tonali tertarik pindah ke Tottenham. Jawabannya singkat: “Dia terbuka.” Namun, fokus utama Tonali saat itu adalah menjaga Newcastle United tetap di Premier League. Baru sehari setelah Tottenham mengalahkan Everton dan memastikan diri tidak terdegradasi, de Zerbi menghubungi Tonali secara langsung. Dalam sepuluh menit, telepon sang gelandang berdering. Pertemuan lanjutan di rumah Tonali di luar Brescia pun digelar.
Koneksi Tonali dan de Zerbi sebenarnya sudah terjalin sembilan tahun silam, saat de Zerbi menangani Sassuolo dan ingin merekrutnya. Meski saat itu gagal, benih hubungan itu terus tumbuh. “Brescia sangat kecil. Saya menghabiskan dua minggu di sana dan bertemu dia dua atau tiga kali,” kenang Tonali. Pertemuan musim panas ini, menurut sumber dekat pemain, benar-benar memikatnya—terlepas dari tawaran klub lain dengan rekor prestasi jauh lebih gemilang. “Jujur, saya juga berbicara dengan tim lain,” aku Tonali, “tetapi kesan pertama sangat penting. Ketika Anda bahagia setelah obrolan sepuluh menit, itu segalanya.”
Keputusan pindah ke London, menurut Tonali, hanya 10 persen dipengaruhi daya tarik kota. Sisanya, 90 persen, adalah faktor sepak bola: de Zerbi, staf rekrutmen Tottenham, dan keyakinan bahwa klub ini adalah tempat terbaik untuk karier dan keluarganya. Ia mengakui sempat berencana pulang ke Italia, tetapi nilai transfer yang terlalu tinggi membuat klub-klub Serie A tidak mampu membelinya. “Inggris adalah solusi kami, dan kami menemukan solusi terbaik di sini,” tegasnya.
Di Tottenham, Tonali bergabung dengan kontingen Italia di staf pelatih dan rekan setimnya di tim nasional, Destiny Udogie. Namun, ia menegaskan kepindahan ini bukan karena ketidakpuasan di Newcastle. Tanpa diminta, ia memuji mantan manajernya, Eddie Howe, dan berharap tetap menjalin persahabatan dengannya serta direktur olahraga Newcastle, Ross Wilson. “Eddie luar biasa bagi saya,” ujarnya. Ia juga menyebut ingin memberikan “kesepakatan terbaik” bagi Newcastle karena mereka “pantas mendapatkan segalanya,” seraya memuji atmosfer St James’ Park dan dukungan fanatik pendukung.
Meski demikian, bayang-bayang masa lalu tetap mengikuti. Tonali menjalani larangan bermain sepuluh bulan akibat pelanggaran aturan taruhan FA saat masih di Newcastle. Kini, label harga £100 juta juga membawa tekanan besar, tetapi ia bertekad tetap menjadi pribadi yang “normal”. “Saya orang biasa. Saat pulang ke Italia, saya mengunjungi keluarga, nenek, teman-teman. Jika sempurna untuk keluarga saya, sempurna untuk saya,” pungkasnya.
Dengan kombinasi ikatan emosional, visi taktis de Zerbi, dan ambisi Tottenham yang tengah bangkit, pertanyaan besarnya adalah: akankah Tonali menjadi fondasi kebangkitan Spurs, atau justru beban yang terlalu berat dipikul?



