Legenda Newcastle Peringatkan Masa Sulit: Kepergian Howe dan Gelombang Jual Bintang
Baca dalam 60 detik
- Eddie Howe resmi meninggalkan Newcastle United setelah membawa tim meraih trofi Carabao Cup 2025, meninggalkan warisan sebagai manajer tersukses dalam beberapa dekade.
- Penjualan pemain kunci seperti Isak, Gordon, dan Tonali, serta kegagalan mendatangkan target utama, menandai perubahan strategi klub yang mengkhawatirkan.
- Alan Shearer menilai transisi ini berisiko tinggi, terutama dengan pelatih baru Matthias Jaissle yang belum teruji di Premier League.

Kepergian Eddie Howe dari kursi pelatih Newcastle United pada pertengahan pramusim menjadi pukulan telak bagi klub dan suporter. Legenda klub, Alan Shearer, secara terbuka mengungkapkan kekhawatirannya bahwa masa depan The Magpies akan diwarnai tantangan berat, menyusul gelombang penjualan pemain bintang dan perubahan haluan strategi kepemilikan.
Howe, yang diangkat pada November 2021 saat Newcastle terpuruk di posisi 19, berhasil membawa klub keluar dari zona degradasi, finis keempat, ketujuh, dan kelima di tiga musim berikutnya, serta menjuarai Carabao Cup 2025—trofi pertama klub dalam 56 tahun. Namun, prestasi itu kini terasa seperti kenangan manis di tengah realitas baru yang pahit.
Menurut Shearer, kepergian Howe bukanlah kejutan mengingat tren penjualan pemain andalan. Alexander Isak, Anthony Gordon, dan Sandro Tonali telah dilego pada bursa transfer musim panas ini, sementara kapten Bruno Guimaraes dikabarkan menjadi target berikutnya. "Anda tidak bisa terus menjual pemain terbaik lalu berharap bersaing di papan atas," ujar Shearer kepada BBC Sport.
Kegagalan mendatangkan target seperti Hugo Ekitike, Johan Manzambi, dan Victor Munoz—yang memilih Liverpool atau Aston Villa—menambah daftar panjang kekecewaan. Bahkan kiper James Trafford dikabarkan lebih memilih Leeds United. Shearer menduga ada alasan mendasar mengapa Newcastle kalah bersaing di bursa transfer, yang mungkin turut memengaruhi keputusan Howe untuk hengkang.
Perubahan strategi kepemilikan yang dipimpin Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) menjadi sorotan. Jika sebelumnya ambisi klub tak terbatas—bersaing dengan raksasa Liga Primer—kini pendekatan bergeser ke model bisnis: menjual bintang dan merekrut pemain muda potensial dengan harga murah. Shearer meragukan model ini bisa berhasil di liga yang sangat kompetitif. "Jika semudah itu, semua orang akan melakukannya," katanya.
Kekhawatiran Shearer juga tertuju pada pelatih anyar yang diisukan, Matthias Jaissle. Meski sukses bersama Al-Ahli di Arab Saudi, pengalaman Jaissle di Premier League masih nol. "Liga Premier adalah 'binatang' yang berbeda," tegas Shearer. Ia menilai bahkan pelatih berpengalaman pun akan kesulitan menghadapi situasi Newcastle saat ini.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, dinamika Newcastle menjadi cermin bagaimana tekanan finansial dan perubahan strategi dapat menggerus fondasi klub yang baru saja merasakan kejayaan. Keputusan PIF untuk beralih dari pendekatan 'belanja besar' ke model berkelanjutan mungkin relevan dengan diskusi tentang regulasi keuangan klub di Liga Indonesia, di mana keseimbangan antara ambisi dan kepatuhan aturan sering menjadi perdebatan.
Shearer menutup dengan nada pesimistis. "Saat kami memenangi Carabao Cup, saya berharap itu hanya awal dari sesuatu yang istimewa. Tapi banyak yang berubah sejak saat itu." Pertanyaan besarnya: akankah Newcastle mampu mempertahankan identitasnya di tengah arus perubahan, atau justru tenggelam dalam ketidakpastian?



