UEFA Siap Boikot Piala Dunia Jika FIFA Jual Saham Kompetisi ke Investor Swasta
Baca dalam 60 detik
- 55 asosiasi sepak bola Eropa sepakat memboikot seluruh turnamen FIFA jika rencana penjualan saham kepada investor swasta disetujui.
- Langkah ini merupakan respons terhadap proposal FIFA yang dinilai mengancam independensi dan tata kelola sepak bola global.
- Uji coba pertama boikot akan terjadi pada Oktober mendatang saat play-off Piala Dunia Wanita digelar.

Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) dan 55 anggotanya secara resmi mengancam akan memboikot Piala Dunia jika FIFA tetap melanjutkan rencana menjual saham kompetisinya kepada investor swasta. Keputusan ini diambil dalam rapat darurat pada Kamis (20/3) sebagai bentuk perlawanan terhadap proposal yang diumumkan FIFA pada Selasa (18/3).
Dalam pernyataan resmi, UEFA menyebut rencana tersebut dapat mengubah struktur kepemilikan turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia. Jika disetujui, investor swasta akan memiliki hak atas sebagian pendapatan dari Piala Dunia pria, wanita, dan Piala Dunia Antarklub. UEFA menilai langkah ini mengancam prinsip solidaritas dan transparansi yang selama ini dijunjung tinggi.
Ketegangan antara UEFA dan FIFA sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa hari sebelumnya. UEFA merilis dua pernyataan keras yang mengkritik proposal tersebut, dan kini sikap itu dipertegas dengan voting boikot. Boikot akan berlaku untuk semua turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia 2026 dan 2030, jika Presiden FIFA Gianni Infantino berhasil meloloskan rencana ini melalui voting anggota FIFA.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi langsung. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia sangat bergantung pada siaran Piala Dunia. Jika boikot terjadi, hak siar bisa terganggu dan berdampak pada industri penyiaran serta pariwisata. Selain itu, PSSI sebagai anggota FIFA harus menentukan sikap dalam voting mendatang. Langkah UEFA juga bisa menjadi preseden bagi konfederasi lain, termasuk AFC, untuk menolak komersialisasi berlebihan.
Menurut analis sepak bola internasional, langkah UEFA ini merupakan yang terkuat dalam sejarah hubungan kedua organisasi. โIni bukan sekadar ancaman. UEFA menunjukkan keseriusan dengan mengadakan voting darurat dan mengumumkannya secara terbuka,โ ujar seorang pengamat. โJika FIFA tetap ngotot, kita bisa menyaksikan perpecahan terbesar dalam sepak bola global sejak pembentukan FIFA sendiri.โ
FIFA sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas ancaman boikot UEFA. Namun, sumber internal FIFA menyebutkan bahwa Infantino tetap optimis proposalnya akan mendapat dukungan mayoritas dari asosiasi negara berkembang yang membutuhkan suntikan dana segar. Pertarungan suara di Oktober mendatang akan menjadi penentu: apakah sepak bola tetap menjadi milik publik, atau mulai beralih ke tangan investor swasta.



