Premier League Sepakati Dana Hibah untuk EFL: Transfer Levy Jadi Sumber Pendanaan
Baca dalam 60 detik
- Seluruh 20 klub Premier League sepakat memberikan suntikan dana kepada EFL dalam kemitraan strategis 10 tahun, dengan skema pungutan transfer sebagai sumber pendanaan utama.
- Kesepakatan ini muncul setelah tekanan regulator independen dan ancaman intervensi pemerintah, mengakhiri kebuntuan yang berlangsung sejak 2021.
- Jika disetujui EFL, dana segar ini berpotensi mengubah peta kompetisi divisi bawah Inggris dan menjadi preseden bagi liga lain, termasuk Indonesia.

Dua puluh klub Premier League akhirnya mencapai kata sepakat untuk mengucurkan dana bantuan ke English Football League (EFL) dalam sebuah kemitraan strategis berdurasi satu dekade. Keputusan yang diambil secara bulat dalam rapat klub pada Selasa (4/3/2025) ini menjadi titik terang setelah perseteruan finansial yang berlarut-larut sejak 2021.
Meski angka pasti belum diumumkan secara resmi, Sky News melaporkan nilai kesepakatan mencapai ยฃ1,5 miliar. Premier League enggan mengonfirmasi atau membantah angka tersebut, namun menegaskan proposal sudah sepenuhnya didanai melalui pungutan transfer (transfer levy). Skema ini memungkinkan klub-klub papan atas menyisihkan sebagian biaya transfer pemain untuk dialokasikan ke EFL.
Ketegangan antara Premier League dan EFL sudah memuncak dalam beberapa tahun terakhir. Puncaknya pada Maret 2024, ketika pemerintah Inggris memberi ultimatum: jika kedua pihak tak kunjung sepakat, pemerintah akan memaksakan solusi melalui regulator independen yang baru dibentuk. Tekanan itu akhirnya membuahkan hasil setelah serangkaian pertemuan yang melibatkan Premier League, EFL, dan Independent Football Regulator.
Kebuntuan yang berlangsung sejak fan-led review 2021 ini dipicu oleh sejumlah krisis, termasuk gagalnya proyek European Super League dan kebangkrutan Bury FC. Di satu sisi, klub-klub Premier League enggan begitu saja menyerahkan uang karena khawatir mendanai pesaing mereka sendiri. Di sisi lain, beberapa klub EFL seperti Stoke City justru dimiliki oleh konglomerat yang lebih kaya dibanding pemilik klub Premier League tertentu.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan gambaran tentang bagaimana regulasi keuangan dapat menciptakan keseimbangan kompetisi. Liga Indonesia yang masih bergulat dengan masalah pendanaan dan kesenjangan antar klub bisa menjadikan model pungutan transfer sebagai referensi. PSSI dan PT LIB mungkin perlu mengkaji skema serupa untuk memperkuat divisi bawah dan menjaga keberlanjutan klub-klub kecil.
EFL kini akan meninjau proposal secara mendetail sebelum meminta persetujuan dari 72 klub anggotanya. โKami menantikan proposal resmi dan akan mengevaluasi manfaat serta implikasinya bagi kepentingan jangka panjang klub-klub kami,โ ujar perwakilan EFL. Proses voting diperkirakan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Jika disetujui, kesepakatan ini tidak hanya mengakhiri perselisihan yang menguras energi, tetapi juga membuka babak baru dalam tata kelola sepak bola Inggris. Pertanyaan besarnya: akankah dana sebesar itu cukup untuk mengejar ketertinggalan EFL dari Premier League, atau justru memperlebar jurang ketergantungan?



