Kebakaran KMP Mutiara Santosa 2: 232 Penumpang Dievakuasi, Lima Tewas
Baca dalam 60 detik
- Operasi penyelamatan di Perairan Sumenep mencatat 232 orang dievakuasi, dengan 227 selamat dan lima meninggal dunia hingga Minggu sore.
- Kapal niaga seperti KM Meratus Pematang Siantar memainkan peran kunci, mengevakuasi hampir separuh korban dan mempercepat proses pertolongan.
- Insiden ini menyoroti pentingnya prosedur keselamatan pelayaran dan kesiapsiagaan SAR dalam merespons keadaan darurat di laut.

Badan SAR Nasional (Basarnas) melaporkan bahwa 232 orang yang menjadi korban kebakaran KMP Mutiara Santosa 2 di perairan utara Sumenep, Jawa Timur, telah berhasil dievakuasi hingga Minggu pukul 18.00 WIB. Dari jumlah tersebut, 227 penumpang dinyatakan selamat, sementara lima orang lainnya meninggal dunia.
Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit PH, mengungkapkan bahwa proses evakuasi melibatkan unsur SAR gabungan serta sejumlah kapal niaga yang kebetulan berada di sekitar lokasi kejadian. "Data sementara hingga pukul 18.00 WIB, total korban yang berhasil dievakuasi sebanyak 232 orang, terdiri atas 227 selamat dan lima meninggal dunia," ujarnya di Surabaya, Minggu.
KM Meratus Pematang Siantar menjadi kapal yang paling banyak mengevakuasi korban, yakni 111 orang, dengan rincian 109 selamat dan dua meninggal. Kapal tersebut saat ini sedang menuju Surabaya dan diperkirakan tiba sekitar pukul 21.00 WIB untuk melakukan intercept dengan KN SAR 249 Permadi. Sementara itu, TB Hasnur 26 mengevakuasi 66 korban (65 selamat, satu meninggal), Transco Arafura membawa 17 korban selamat, dan KM Meratus Project 3 mengangkut 14 orang (13 selamat, satu meninggal).
Kapal-kapal lain seperti Prakarsa Mas, SC Aila XVII, Selaras Mas, dan British Mentor masing-masing mengevakuasi tujuh hingga dua korban selamat. Satu jenazah lainnya dibawa oleh Alcon Daniel. Nanang menambahkan bahwa sejumlah kapal yang masih membawa korban, termasuk TB Hasnur 26, Transco Arafura, KM Meratus Project 3, SC Aila XVII, dan Alcon Daniel, masih menunggu proses penjemputan oleh unsur SAR.
Dalam operasi ini, Basarnas mengerahkan KN SAR 249 Permadi, RIB 01 Sumenep, serta melibatkan KRI Nala 363 dari Armada II bersama kapal-kapal niaga untuk mempercepat penyelamatan. Kecepatan respons dan koordinasi antarlembaga menjadi kunci dalam meminimalkan korban jiwa.
Insiden kebakaran di kapal penumpang ini kembali menyoroti pentingnya standar keselamatan pelayaran di Indonesia, yang memiliki ribuan pulau dan jalur laut padat. Meski evakuasi berjalan relatif cepat berkat bantuan kapal niaga, kejadian ini menjadi pengingat akan risiko yang dihadapi penumpang dan awak kapal, serta perlunya audit rutin terhadap prosedur keselamatan dan kesiapan alat pemadam kebakaran di kapal.
Bagi masyarakat Indonesia, kecelakaan ini menimbulkan pertanyaan tentang regulasi keselamatan pelayaran dan pengawasan terhadap kapal-kapal yang beroperasi. Pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga pada pencegahan jangka panjang, termasuk peningkatan pelatihan awak kapal, pemeliharaan peralatan keselamatan, dan penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pelanggaran.
Ke depannya, evaluasi menyeluruh terhadap insiden ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kapal penumpang memenuhi standar keselamatan yang ketat. Apakah insiden ini akan mendorong reformasi di sektor pelayaran nasional, atau justru menjadi catatan kelam yang berulang? Hanya waktu yang akan menjawab, namun nyawa manusia tidak boleh menjadi taruhan.



