Trump Ancam Hantam Iran Keras: Perang Timur Tengah Kembali Memanas
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump berjanji memberikan respons keras terhadap Iran setelah serangan rudal ke pangkalan AS di Yordania, mengakhiri jeda pertempuran singkat.
- Serangan balasan AS dan Sekutu meluas ke Irak dan perbatasan Iran, sementara harga minyak melonjak 5% akibat kekhawatiran gangguan pasokan global.
- Konflik proksi Iran melalui Houthi, Hezbollah, dan milisi Irak memperumit situasi, dengan implikasi langsung terhadap keamanan energi dan stabilitas kawasan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras untuk menghantam Iran setelah serangan rudal yang menargetkan pangkalan militer AS di Yordania pada Rabu (29/7). Pernyataan itu mengakhiri harapan gencatan senjata dan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga 5 persen.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menggunakan diksi vulgar untuk menegaskan tekadnya. "Kami akan menghajar mereka keras-keras. Mereka akan mendapat pukulan telak," kutip koresponden Fox. Pernyataan itu muncul setelah Iran meluncurkan rudal ke Yordania, sekutu dekat Washington, dan media pemerintah Iran melaporkan serangan AS di dekat perbatasan Irak-Iran.
Konflik yang sempat mereda selama beberapa hari—memberi harapan pada jalur negosiasi—kini kembali memanas. Arab Saudi dan AS mengumumkan operasi gabungan menyerang pangkalan milisi di Irak. Riyadh menuding kelompok bersenjata Irak yang pro-Teheran bertanggung jawab atas serangan drone ke fasilitas minyaknya selama dua hari berturut-turut. Sementara itu, Israel menuduh Hizbullah, sekutu Iran di Lebanon, melanggar gencatan senjata dengan meluncurkan drone ke kendaraan militer Israel di wilayah perbatasan.
Analis keamanan Saudi, Hesham Alghannam, menilai Iran memanfaatkan jaringan proksinya untuk mempertahankan daya tawar sementara jalur diplomatik menyita perhatian internasional. "Perang proksi adalah kelanjutan perang langsung dengan cara lain, dan dijalankan dengan koherensi strategis yang cukup besar," ujarnya kepada AFP.
Di sisi lain, televisi pemerintah Iran melaporkan serangan AS di wilayahnya—tepatnya di daerah perbatasan Piranshahr, Provinsi Azerbaijan Barat. Pejabat setempat mengatakan rudal menghantam area tak berpenghuni tanpa korban jiwa. Sebelumnya, tentara Yordania mengaku berhasil mencegat lima rudal Iran yang ditembakkan ke pangkalan AS di negaranya. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan serangan itu sebagai respons atas ancaman yang berkelanjutan terhadap Republik Islam.
Di Irak, operasi gabungan AS-Arab Saudi menargetkan lokasi logistik dan senjata milisi pro-Iran. Hashed al-Shaabi, aliansi kelompok bersenjata yang dibentuk 2014 untuk melawan jihadis dan kini terintegrasi dalam angkatan bersenjata Irak, menyebut serangan itu sebagai eskalasi berbahaya terhadap institusi keamanan resmi. Presiden Irak, tanpa menyebut nama AS dan Saudi, mengecamnya sebagai pelanggaran kedaulatan. Namun, Trump mengklaim serangan itu telah dikoordinasikan dengan pemerintah Irak.
Konteks Indonesia: Eskalasi di Timur Tengah berdampak langsung pada Indonesia, terutama melalui harga energi. Lonjakan harga minyak mentah berpotensi menekan anggaran subsidi BBM dan listrik, serta memicu inflasi impor. Selain itu, Selat Hormuz dan Laut Merah merupakan jalur vital bagi pasokan minyak Indonesia dari Timur Tengah. Gangguan di kedua titik itu bisa memperpanjang tekanan pada neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika ini dalam menyusun kebijakan energi jangka pendek.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu Trump di Washington untuk merapatkan perbedaan pandangan soal perang. Kedua pihak menyebut pertemuan itu positif, dengan Netanyahu menekankan tujuan bersama: memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Namun, Israel belum bergabung dalam putaran serangan terbaru terhadap Iran, meski sebelumnya bertempur bersama AS pada minggu-minggu awal perang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah AS dan sekutunya mampu menekan Iran tanpa memicu perang terbuka yang lebih luas, atau justru konflik proksi akan semakin memperumit peta geopolitik kawasan. Bagi Indonesia, stabilitas pasokan energi dan harga komoditas menjadi taruhan utama di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.



