Bawaslu Gandeng PPATK untuk Lacak Aliran Politik Uang Digital
Baca dalam 60 detik
- Bek tengah asal Inggris, John Stones, telah mendarat di Milan dan akan menjalani tes medis bersama Inter Milan, menandai kepindahannya dari Manchester City secara gratis.
- Kontrak berdurasi dua tahun menanti Stones di Giuseppe Meazza, memperkuat lini pertahanan Nerazzurri yang tengah bersiap mempertahankan scudetto.
- Kedatangan Stones menjadi angin segar bagi Serie A, sekaligus menunjukkan daya tarik kompetisi Italia bagi pemain bintang yang habis kontrak.

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam upaya memperkuat deteksi praktik politik uang yang kini makin sering memanfaatkan transaksi digital, sebuah langkah yang dinilai krusial menyongsong pemilu serentak mendatang.
Anggota Bawaslu RI Herwyn J.H. Malonda di Bandung, Kamis (25/7), menegaskan bahwa lembaga pengawas pemilu tidak mungkin berjalan sendirian. Sinergi lintas institusi menjadi keniscayaan, terutama karena modus politik uang terus berevolusi. Menurutnya, pertukaran data intelijen keuangan dengan PPATK akan memudahkan pelacakan alur dana yang berpotensi mencederai demokrasi.
Herwyn menjelaskan bahwa Bawaslu menghadapi tantangan semakin kompleks. Praktik pemberian uang tunai yang dulu mudah terdeteksi kini bergeser ke transaksi elektronikโdari dompet digital hingga kriptoโyang membutuhkan dukungan teknologi dan analisis data canggih. "Bawaslu tidak dapat bekerja sendiri sehingga membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan," ujarnya dalam keterangan resmi.
Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Barat Zacky Muhammad Zam Zam menambahkan, keterlibatan kalangan akademisi dan perguruan tinggi sangat vital untuk memperkuat pengawasan partisipatif yang berbasis riset. Menurutnya, kolaborasi ini diharapkan melahirkan gagasan, rekomendasi, dan inovasi yang memperkuat kelembagaan Bawaslu. "Melalui kolaborasi ini, kami berharap lahir berbagai gagasan, rekomendasi, dan inovasi yang dapat memperkuat kelembagaan Bawaslu. Kolaborasi dengan kalangan akademisi juga diharapkan mampu mendorong pengawasan partisipatif yang semakin efektif sehingga dapat mewujudkan pemilu yang berintegritas," tuturnya.
Bagi pemilih di Indonesia, langkah ini menjadi angin segar di tengah kekhawatiran akan maraknya politik uang digital yang sulit dibuktikan. Dalam Pilkada 2024, Bawaslu beberapa kali mengendus praktik serupa melalui aplikasi digital. Dengan kolaborasi bersama PPATK, Bawaslu berharap dapat menjerat pelaku yang memanfaatkan celah transaksi elektronik. Namun, keberhasilan pengawasan tidak hanya bergantung pada teknologi, melainkan juga pada partisipasi aktif masyarakat untuk menolak segala bentuk politik uang.
"Bawaslu tidak dapat bekerja sendiri sehingga membutuhkan kolaborasi yang kuat dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk lembaga negara, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan masyarakat luas." โ Herwyn J.H. Malonda, Anggota Bawaslu RI
Ke depan, Bawaslu berencana memperluas kerja serupa dengan lembaga lain, termasuk penyedia platform digital, guna menutup celah transaksi politik uang. Pertanyaannya, sejauh mana kesadaran publik dan calon pemimpin untuk benar-benar menjauhi praktik kotor ini demi demokrasi yang lebih bersih? Hanya dengan komitmen bersama, integritas pemilu dapat terjaga.



