Bantuan Sewa Rp13 Juta untuk Pedagang Singapura: Ketika Krisis Timur Tengah Memukul Usaha Kecil
Baca dalam 60 detik
- Bek tengah Jerman Yann Bisseck resmi meneken kontrak anyar bersama Inter Milan hingga Juni 2031, mengakhiri spekulasi kepindahannya ke Bayern Munich.
- Keputusan ini menjadi bagian dari restrukturisasi lini belakang Inter yang ditinggalkan tiga pemain senior, sekaligus sinyal ambisi klub mempertahankan talenta muda.
- Bisseck, yang diboyong dengan harga €7 juta pada 2023, telah mengoleksi dua gelar Serie A bersama Nerazzurri dan kini menjadi pilar utama di pertahanan.

Pemerintah Singapura mengumumkan paket bantuan sewa senilai S$1.200 (sekitar Rp13 juta) bagi pedagang makanan siap saji dan S$600 (Rp6,5 juta) bagi pemilik kios pasar, yang akan dicairkan dalam enam bulan. Langkah ini diambil di tengah tekanan ekonomi akibat konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga bahan pokok dan biaya logistik.
Paket yang diumumkan pada Rabu (29 Juli) itu menargetkan 15.200 lapak, terdiri dari 6.900 lapak makanan dan 8.300 lapak pasar. Senior Menteri Negara Perdagangan dan Industri Low Yen Ling menyatakan bantuan ini bertujuan menjaga keberlangsungan budaya jajanan kaki lima Singapura dan menunjukkan komitmen pemerintah sebagai pengelola yang bertanggung jawab.
Meski demikian, sejumlah pedagang yang ditemui CNA mengaku bantuan itu belum cukup menutup kenaikan biaya. Cyrus Yap, pemilik kedai masakan Eropa modern Style Palate di Woodleigh Village Hawker Centre, mencatat kenaikan harga daging, sayur, minyak, dan beras sebesar 10–20 persen. Ia terpaksa beralih ke pekerja paruh waktu dan lembur setiap hari untuk menekan biaya tanpa menaikkan harga menu.
Di Maxwell Food Centre, Ita, penjual makanan India, mengeluhkan biaya tomat dan wadah plastik yang membengkak. Ia membayar sewa sekitar S$2.620 per bulan termasuk biaya pembersihan. “Bantuan S$1.200 selama enam bulan seperti ‘ya tapi tidak’. Masih belum banyak membantu,” ujarnya. Hal senada disampaikan Li Yan, generasi kedua penjual makanan lokal Straits Authentic, yang sewa bulanannya mencapai S$2.850. Ia harus merogoh S$2–3 ekstra setiap hari untuk biaya pengiriman mie.
Krisis Timur Tengah tak hanya berdampak pada bahan pangan. Ben Zhang, pemilik kedai kopi Beo Crescent Coffee Powder, menyebut biaya impor dan pemanggangan biji kopi justru lebih terasa. Harga kantong plastik bening pun naik dari S$8 menjadi S$10 per pak. “Bantuan S$600 lebih berarti bagi saya karena sewa tiga unit hanya S$800 per bulan,” katanya. Namun pedagang lain seperti Ng Kim Teck dari Ting Seng Ceremonial Services harus menaikkan harga minyak sembahyang dari S$5 menjadi S$7 per botol, tanpa ambil untung. Ia khawatir omzet terus merosot dan terpaksa pensiun.
Di Indonesia, dampak serupa mulai terasa di pasar tradisional, meski belum ada skema bantuan sewa khusus. Kenaikan harga minyak goreng dan tepung akibat gangguan rantai pasok global telah memicu inflasi pangan. Pengamat ekonomi menilai kebijakan subsidi langsung seperti Singapura bisa menjadi referensi, namun perlu disesuaikan dengan skala UMKM Indonesia yang jauh lebih besar.
Pemerintah Singapura mengingatkan agar pedagang tidak memanfaatkan bantuan untuk menaikkan harga seenaknya. Komisi Persaingan dan Konsumen bersama Asosiasi Konsumen akan mengawasi transparansi harga. Namun bagi Ita, kekhawatiran kehilangan pelanggan lebih besar—kenaikan harga nasi briyani pada 2024 membuatnya kehilangan 20–30% pelanggan. “Saya belum naikkan harga lagi. Bisakah Anda bayangkan tekanan itu?” keluhnya. Pertanyaan besarnya: akankah bantuan ini cukup mencegah gelombang penutupan lapak di kaki lima Singapura?



