Generasi Muda Korea Selatan Buktikan AI dan Membaca Bisa Berjalan Beriringan
Baca dalam 60 detik
- Tingkat membaca orang dewasa Korea Selatan terus menurun drastis, namun kelompok usia 20-30 tahun justru menunjukkan angka partisipasi tinggi, mencapai 75,3 persen.
- Kelompok usia yang sama juga menjadi pengguna AI generatif paling aktif, dengan tingkat penggunaan di atas 70 persen, memicu spekulasi tentang hubungan kausal antara keduanya.
- Penerbit Minumsa mencatat lonjakan pendapatan 23,8 persen di tengah kontraksi pasar, didorong oleh strategi konten digital dan antusiasme pengunjung Seoul International Book Fair yang naik 60 persen.

Di tengah kekhawatiran global bahwa kecerdasan buatan (AI) akan mengikis kebiasaan membaca, generasi muda Korea Selatan justru membuktikan sebaliknya. Kelompok usia 20-an dan 30-an yang tercatat sebagai pengguna AI paling rajin di negeri ginseng itu, juga menjadi motor kebangkitan industri penerbitan yang selama satu dekade terakhir terus merosot.
Survei Membaca Nasional 2025 yang dirilis Kementerian Kebudayaan Korea Selatan menunjukkan bahwa persentase orang dewasa yang membaca setidaknya satu buku per tahun ambles dari 72,2 persen pada 2013 menjadi hanya 38,5 persen. Namun, di antara mereka yang berusia 20 tahun, angka partisipasi membaca masih bertengger di 75,3 persen, sementara kelompok usia 30 tahun mencatat 66,4 persen. Survei terpisah dari Kementerian Sains menemukan bahwa dua kelompok umur ini juga memuncaki penggunaan AI generatif, masing-masing 75,3 persen dan 71,1 persen.
Fenomena ini terlihat nyata di Seoul International Book Fair yang digelar akhir Juni lalu. Antrean panjang sudah mengular sebelum pintu dibuka pukul 10 pagi. Stan penerbit besar seperti Minumsa dipadati pengunjung, dan stan rekomendasi buku berbasis bookmark menjadi salah satu yang paling ramai. Oh Da Young, mahasiswi 21 tahun, mengaku telah membaca 24 buku tahun lalu—sepuluh kali lipat rata-rata nasional—dan menargetkan angka lebih tinggi tahun ini, didorong oleh komunitas baca kecil bersama dua temannya.
Minumsa menjadi contoh paling mencolok dari tren ini. Menurut laporan tahunan Asosiasi Penerbit Korea, pendapatan penerbit itu melonjak 23,8 persen pada 2025, sementara pasar buku perdagangan secara keseluruhan justru menyusut 6,9 persen. Peringkatnya pun naik dari ke-11 menjadi ke-8 di antara penerbit besar. Strategi yang dijalankan cukup unik: melalui kanal YouTube yang santai, para editor berdiskusi soal sastra dan merekomendasikan buku dengan gaya yang mudah dicerna anak muda.
Kehadiran media sosial juga tak bisa diabaikan. Konsep "text-hip”—pandangan bahwa membaca itu keren—mendorong generasi muda untuk membagikan kebiasaan membaca mereka secara daring, menjadikan buku sebagai penanda identitas budaya. Di arena pameran, banyak pengunjung terlihat berfoto di stan-stan penerbit. Lee Moon Ju, 37 tahun, misalnya, sesekali mengunggah kutipan favorit dari buku yang dibacanya di media sosial, sekadar untuk kepuasan pribadi.
Park Ji Yong, 34 tahun, yang pertama kali datang ke pameran buku, mengaku mulai rajin membaca beberapa tahun lalu karena dorongan pengembangan diri. Survei membaca menempatkan "pengembangan diri" sebagai alasan kedua terbanyak orang dewasa membaca, setelah "kesenangan". Park, yang juga pengguna berat AI, memanfaatkan Google Gemini untuk memperdalam pemahamannya terhadap sastra—misalnya meminta AI menjelaskan referensi dalam novel Haruki Murakami, Kafka on the Shore, atau merekomendasikan buku berikutnya berdasarkan genre yang telah ia selesaikan.
Namun, tidak semua anak muda menerima AI dengan tangan terbuka. Kim Han Bi, 21 tahun, justru menghindari teknologi itu karena sumbernya dianggap tidak dapat diandalkan. Ia lebih suka merujuk buku dan makalah akademis. Menariknya, Oh Da Young malah berteori bahwa kebangkitan membaca justru dipicu oleh AI. "Orang-orang menggunakan AI begitu banyak sehingga mereka kehilangan waktu untuk membaca dan berpikir. Saya pikir mereka sadar perlu kembali ke buku untuk membentuk ide dan mengekspresikan diri," ujarnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menyiratkan pelajaran penting. Di tengah penetrasi internet dan AI yang juga tinggi di kalangan milenial dan Gen Z Indonesia, potensi kebangkitan pasar buku serupa mungkin bisa terwujud jika penerbit dan komunitas literasi mampu mengadopsi strategi serupa—menggabungkan konten digital yang relevan, pengalaman fisik yang menarik, serta memanfaatkan media sosial sebagai etalase identitas. Pertanyaannya, akankah penerbit Tanah Air berani berinvestasi pada pendekatan yang memadukan teknologi dan tradisi membaca?



