Ibu-Ibu Arborek Jadi Garda Depan Ungkap Populasi Terpadat Hiu Berjalan di Raja Ampat
Baca dalam 60 detik
- Penelitian 14 bulan di Raja Ampat mencatat kepadatan hiu berjalan tertinggi global, mencapai 2.462 individu per km² di Kampung Sawinggrai.
- Ibu-ibu dan perempuan muda Arborek berperan aktif dalam survei malam hari, mengubah kebiasaan lokal menjadi aksi konservasi nyata.
- Ancaman pariwisata dan pembangunan pesisir mendesak perlindungan habitat hiu berjalan yang sangat terbatas dan rentan.

Raja Ampat, Papua Barat Daya, menyimpan rekor baru: populasi hiu berjalan (Hemiscyllium freycineti) terpadat yang pernah tercatat di dunia, dengan angka 2.462 individu per kilometer persegi di perairan Kampung Sawinggrai, Pulau Gam. Temuan ini bukan sekadar catatan ilmiah, melainkan bukti peran krusial masyarakat lokal, terutama para ibu dan perempuan muda, dalam menjaga spesies endemik yang hanya ditemukan di kawasan ini.
Riset yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Fish Science itu mengungkap bahwa hiu berjalan—yang mampu ‘berjalan’ di dasar laut menggunakan sirip dada dan perutnya—memiliki wilayah jelajah sangat sempit. Sepanjang 64 malam survei, tim mengidentifikasi 736 individu unik dari 1.191 penampakan. Tak satu pun hiu tercatat berpindah antarpulau; pergerakan mereka tak lebih dari 500 meter dari titik pertama ditemukan. Karakter ini membuat mereka rentan terhadap gangguan lokal seperti pembangunan homestay, polusi, dan degradasi terumbu karang.
Yang membedakan riset ini adalah keterlibatan aktif warga Kampung Arborek. Berbekal senter dan alat tulis, para ibu dan perempuan muda menyusuri perairan dangkal saat air surut malam hari. Mereka mencatat kemunculan hiu berjalan yang dalam bahasa setempat disebut mandemor atau kalabia. Sebelumnya, masyarakat hanya tahu hiu ini muncul saat pasang, tapi tak pernah menyadari kelangkaan dan nilai konservasinya. Bahkan anak-anak kerap menangkap dan mempermainkannya karena sifatnya yang jinak.
“Kami melihat survei ini sebagai kesempatan belajar,” ujar salah satu peserta riset dari Arborek. Setelah terlibat langsung, warga mulai memahami bahwa hiu berjalan adalah ‘harta karun’ yang harus dilindungi. Kesadaran itu mendorong perubahan perilaku: dari sekadar berdampingan menjadi kontributor aktif konservasi. Data yang mereka kumpulkan menjadi dasar penting untuk perlindungan habitat, terutama terumbu karang yang dihuni 69% individu muda sebagai tempat berlindung dan mencari makan.
Di balik optimisme itu, ancaman nyata mengintai. Kunjungan wisatawan ke Raja Ampat terus meningkat—mencapai 33.277 orang pada 2024, dengan 75% di antaranya turis asing. Pembangunan homestay dan jembatan di pesisir berpotensi merusak habitat dangkal yang menjadi rumah hiu berjalan. Limbah cair dan padat dari aktivitas pariwisata juga mengancam kualitas air. Meski Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan perlindungan penuh pada 2023, kebijakan tanpa data lapangan yang akurat sulit diimplementasikan secara efektif.
Riset ini menyediakan peta jalan bagi pengelola kawasan konservasi. Dengan mengetahui lokasi berkembang biak dan keterbatasan jelajah, prioritas perlindungan bisa difokuskan pada habitat pesisir yang paling kritis. Aktivitas wisata dan pembangunan perlu diatur agar tidak mengganggu area vital bagi kelangsungan spesies. Namun, keberhasilan konservasi tidak akan tercapai tanpa kolaborasi dengan masyarakat setempat.
Di tengah tekanan pembangunan dan pariwisata, harapan terletak pada sinergi antara ilmuwan, pemerintah, dan warga. Para ibu dan perempuan Arborek yang rela turun ke laut setiap malam adalah bukti bahwa konservasi bisa dimulai dari kesadaran lokal. Pertanyaannya, mampukah kebijakan dan pengelolaan kawasan mengimbangi laju kerusakan agar ‘tetangga kecil’ ini tetap berjalan di dasar perairan dangkal untuk generasi mendatang?



