Anwar Ibrahim Minta Maaf Lagi Atas Ucapan Kontroversial: 'Saya Manusia Biasa'
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim kembali menyampaikan permintaan maaf kepada komunitas India atas penggunaan istilah yang dianggap tidak pantas dalam forum di Universitas Malaya.
- Anwar menegaskan bahwa permintaan maaf tidak melemahkan seorang pemimpin, melainkan menunjukkan ketulusan dan keinginan untuk membawa perubahan di Malaysia.
- Menteri Sumber Daya Manusia R. Ramanan memuji langkah Anwar sebagai bukti kebesaran hati, seraya mendorong komunitas India menilai pemerintah berdasarkan kinerja, bukan janji politik.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, kembali menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada komunitas India di Negeri Sembilan, Rabu malam (29/7), setelah sebelumnya menggunakan istilah yang dinilai tidak pantas dalam sebuah forum di Universitas Malaya. Anwar mengakui bahwa dirinya telah memilih kata yang salah saat menyampaikan pandangan, dan tidak bermaksud menyinggung siapa pun.
Dalam acara PMX Meet-and-Greet bersama komunitas India di Seremban, Anwar menjelaskan bahwa permintaan maaf itu lahir dari kesadaran akan kesalahan yang diperbuat. "Saya telah meminta maaf karena itu bukan yang saya maksud. Perdana Menteri hanyalah manusia biasa. Ada kalanya saya tidak punya niat buruk tetapi menggunakan kata yang salah. Saya menerima kesalahan saya dan telah meminta maaf," ujarnya di hadapan para tokoh masyarakat dan pemimpin organisasi non-pemerintah.
Pernyataan Anwar ini menjadi sorotan karena menunjukkan kerendahan hati seorang kepala pemerintahan di tengah tekanan politik yang kerap menguji popularitasnya. Anwar menegaskan bahwa meminta maaf tidak membuat seorang pemimpin lemah, justru mencerminkan ketulusan dalam mengakui kesalahan dan memperbaikinya. "Meminta maaf tidak merendahkan saya. Saya melakukannya dengan tulus demi membawa perubahan bagi negeri ini," tegasnya.
Lebih jauh, Anwar menekankan bahwa Malaysia adalah milik semua warga negara tanpa memandang ras. Ia mengecam pihak-pihak yang mengeksploitasi sentimen rasial dengan menyuruh warga keturunan Tionghoa kembali ke China atau warga keturunan India kembali ke India. "Saya tidak peduli dengan narasi semacam itu. Malaysia milik semua warga Malaysia dan kita harus bekerja untuk semua orang. Saya seorang Muslim, dan saya tidak pernah diajari untuk menghina pemeluk agama Hindu. Saya orang Melayu, dan orang tua saya tidak pernah mengajari saya untuk merampas hak komunitas India atau menindas komunitas Tionghoa," paparnya.
Menteri Sumber Daya Manusia, R. Ramanan, yang turut hadir dalam acara tersebut, memuji keberanian Anwar meminta maaf di depan publik. Menurutnya, tidak banyak pemimpin, apalagi seorang perdana menteri, yang bersedia melakukan hal itu meskipun memegang jabatan tertinggi di negara. "Dibutuhkan orang yang sangat besar. Bahkan kadang-kadang kita, di dunia bisnis, orang kecil seperti kita merasa terlalu besar untuk meminta maaf. Tapi ini adalah Perdana Menteri sebuah negara yang meminta maaf atas kekurangannya. Saya pikir itu membutuhkan orang yang sangat, sangat besar," ujar Ramanan kepada wartawan.
Ramanan juga mendorong komunitas India untuk menentukan pilihan elektoral berdasarkan catatan kinerja pemerintah, bukan sekadar janji politik. Ia menyebut sejumlah capaian pemerintah, seperti peningkatan alokasi Unit Transformasi Komunitas India Malaysia (MITRA) dari RM100 juta menjadi RM150 juta, pembangunan enam sekolah Tamil baru, serta penyelesaian lebih dari 10.000 permohonan kewarganegaraan. "Jangan membuat keputusan berdasarkan janji semata. Lihat apa yang telah diberikan dan nilai catatan kinerja pemerintah sebelum menentukan pilihan," imbaunya.
Langkah Anwar meminta maaf secara terbuka ini menjadi preseden menarik dalam politik Malaysia, di mana pengakuan kesalahan dari seorang pemimpin puncak masih jarang terjadi. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah sikap ini akan memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintahannya, atau justru dimanfaatkan oleh lawan politik untuk menyerang kredibilitasnya di masa depan.



