Unesco Resmikan Dua Teater Bersejarah Amazon sebagai Warisan Dunia
Baca dalam 60 detik
- Unesco menobatkan Theatro da Paz dan Teatro Amazonas sebagai Warisan Dunia, mengakui nilai sejarah dan arsitekturnya.
- Kedua teater menjadi simbol kejayaan era rubber boom dan upaya modernisasi Amazon pada abad ke-19.
- Pengakuan ini berpotensi meningkatkan pariwisata dan perlindungan, sekaligus menegaskan komitmen Brasil dalam melestarikan warisan budaya.

Badan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Unesco, resmi menetapkan dua teater bersejarah di jantung Amazon, Brasil, sebagai Situs Warisan Dunia. Keputusan ini diumumkan dalam sidang komite warisan dunia yang berlangsung di Busan, Korea Selatan, hingga Rabu pekan ini.
Kedua bangunan yang dimaksud adalah Theatro da Paz di Belem, negara bagian Para, dan Teatro Amazonas di Manaus, Amazonas. Keduanya dibangun pada akhir abad ke-19, tepatnya di puncak demam karet (rubber boom), ketika Amazon menjadi pusat ekonomi global. Arsitekturnya memadukan gaya Eropa dengan material lokal serta simbol-simbol khas hutan hujan.
Menurut Unesco, kedua teater itu dirancang sebagai "simbol ambisi politik dan urban" pada zamannya. Theatro da Paz yang diresmikan pada 1878 menegaskan peran Belem sebagai kota pelabuhan penting, sementara Teatro Amazonas yang dibuka pada 1896 mencerminkan pesatnya pembangunan Manaus saat itu. Brasil mengajukan pencalonan kedua bangunan secara bersamaan karena keduanya mewakili periode sejarah yang sama dan merepresentasikan proyek bersama untuk memodernisasi serta mengintegrasikan Amazon ke dalam jaringan komersial dan budaya global.
Pemerintah Brasil menyatakan bahwa secara arsitektural dan artistik, kedua teater itu memadukan pengaruh dan material impor dengan kayu lokal serta motif yang terinspirasi hutan, menciptakan estetika yang kosmopolitan namun khas Amazon. "Mereka adalah perpaduan antara gaya Eropa dan kearifan lokal yang menghasilkan keunikan tersendiri," demikian pernyataan resmi pemerintah.
Penetapan sebagai Situs Warisan Dunia bukan sekadar gelar kehormatan. Status ini membuka peluang peningkatan kunjungan wisatawan, sekaligus memberikan perlindungan khusus bagi properti tersebut. Bagi Indonesia, pengakuan ini menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan bangunan bersejarah yang merepresentasikan identitas bangsa. Di tengah maraknya pembangunan modern, menjaga situs budaya seperti Candi Borobudur atau Kota Tua Jakarta menjadi tantangan yang membutuhkan komitmen serupa.
Selain kedua teater tersebut, kawasan Amazon juga memiliki Kompleks Konservasi Amazon Tengah, yang merupakan kawasan lindung di pertemuan Sungai Negro dan Solimoes. Situs ini mencakup berbagai ekosistem, mulai dari hutan dataran tinggi hingga hutan dataran rendah yang tergenang musiman, dan menjadi rumah bagi sebagian besar keanekaragaman hayati Amazon.
Dengan bertambahnya dua situs baru ini, Brasil kini memiliki 26 situs warisan dunia. Di sisi lain, langkah Unesco yang juga memasukkan Pantai D-Day dan Gunung Olympus menunjukkan bahwa warisan budaya dan alam terus menjadi perhatian global. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan menyusul dengan mengajukan lebih banyak situs bersejarahnya ke daftar prestisius ini?



