Gempa Kumamoto Tewaskan 28 Orang, Pencarian Korban Terus Berlangsung
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 7,1 SR yang mengguncang Kumamoto, Jepang, pada Selasa malam telah menewaskan sedikitnya 28 orang, termasuk korban yang masih diselidiki kaitannya dengan bencana.
- Pemerintah Jepang menyebut operasi pencarian dan penyelamatan sebagai perlombaan melawan waktu, dengan tim masih berupaya menjangkau area terdampak.
- Bencana ini menjadi pengingat bagi Indonesia, yang juga berada di kawasan rawan gempa, akan pentingnya kesiapsiagaan dan infrastruktur tahan gempa.

Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, pada Selasa (28/7/2026) malam waktu setempat, telah merenggut nyawa sedikitnya 28 orang. Jumlah tersebut mencakup kasus-kasus yang masih dalam penyelidikan untuk memastikan keterkaitan langsung dengan bencana, demikian diumumkan Juru Bicara Pemerintah Jepang, Minoru Kihara, dalam konferensi pers di Tokyo, Kamis (30/7/2026).
Kihara menegaskan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan korban yang masih berlangsung merupakan "perlombaan melawan waktu." Tim penyelamat terus berupaya menjangkau area-area terisolasi yang terdampak parah, termasuk puing-puing bangunan dan infrastruktur yang runtuh. Gempa yang terjadi pada Selasa malam itu telah menyebabkan kerusakan signifikan, termasuk jembatan yang ambrol sebagian di Kota Yatsushiro, seperti terlihat dalam foto udara yang dirilis Kyodo News.
Sebelumnya, pada Rabu (29/7/2026), pemerintah setempat melaporkan 14 korban jiwa terkonfirmasi. Namun, angka tersebut terus bertambah seiring dengan ditemukannya lebih banyak korban dan perluasan investigasi terhadap kematian yang diduga terkait gempa. Selain korban jiwa, dilaporkan pula dua orang dalam kondisi tidak sadarkan diri, dua luka berat, dan tujuh orang hilang di sebuah pabrik kertas di Prefektur Kumamoto.
Gempa Kumamoto ini menjadi pengingat getir bagi Indonesia, yang juga berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan memiliki sejarah panjang bencana gempa bumi. Kejadian serupa di Indonesia, seperti gempa Yogyakarta 2006 dan gempa Lombok 2018, menunjukkan betapa pentingnya kesiapsiagaan, infrastruktur tahan gempa, serta sistem peringatan dini yang efektif. Menurut para ahli, gempa berkekuatan di atas 7 SR berpotensi memicu tsunami lokal, meskipun dalam kasus Kumamoto belum ada laporan gelombang besar.
Pemerintah Jepang, yang dikenal memiliki standar bangunan tahan gempa ketat, tetap menghadapi tantangan besar dalam penanganan bencana ini. Jumlah korban jiwa yang terus bertambah mengindikasikan bahwa meskipun teknologi dan prosedur evakuasi telah maju, gempa bumi tetap menjadi ancaman serius. Operasi penyelamatan difokuskan pada area yang sulit dijangkau, dengan tim menggunakan alat berat dan anjing pelacak untuk mencari korban di bawah reruntuhan.
Ke depannya, pertanyaan krusial yang muncul adalah: apakah sistem mitigasi bencana yang ada sudah cukup untuk menghadapi gempa besar yang diperkirakan akan terjadi di berbagai wilayah rawan? Bagi Indonesia, pelajaran dari Kumamoto menekankan perlunya investasi berkelanjutan dalam edukasi publik, perkuatan bangunan, dan simulasi evakuasi rutin. Tanpa langkah-langkah tersebut, risiko korban jiwa dalam gempa bumi di masa depan akan tetap tinggi.



