Meta Terjepit di Antara Ambisi AI dan Anjloknya Arus Kas
Baca dalam 60 detik
- Arus kas bebas Meta merosot 91% menjadi hanya US$784 juta pada kuartal kedua, memicu kekhawatiran investor atas biaya besar pengembangan AI.
- CEO Mark Zuckerberg tetap optimistis bahwa agen AI personal akan menjadi bisnis konsumen raksasa, meskipun beban belanja infrastruktur mencapai US$145 miliar tahun ini.
- Di tengah tekanan finansial, Meta juga menghadapi tuntutan hukum remaja senilai US$1,4 triliun dan restrukturisasi besar-besaran yang memangkas 10% tenaga kerja.

Arus kas bebas Meta Platforms ambrol 91% pada kuartal kedua 2026, menjadi US$784 juta dari sebelumnya US$8,55 miliar setahun lalu—sebuah sinyal bahwa ambisi besar di bidang kecerdasan buatan mulai menggerogoti keuangan perusahaan induk Facebook dan Instagram tersebut. Saham Meta langsung terperosok 10% dalam perdagangan setelah jam bursa, mengulangi nasib serupa yang dialami Alphabet pekan lalu ketika mencatatkan arus kas negatif untuk pertama kalinya.
CEO Mark Zuckerberg, dalam panggilan pendapatan dengan analis, tetap bersikukuh bahwa pengeluaran besar-besaran ini adalah taruhan pada masa depan agen AI personal yang akan menjadi bisnis konsumen raksasa. “Kami memperkirakan sebagian besar komputasi akan digunakan untuk melatih model, mengembangkan bisnis inti, dan menghadirkan agen personal serta produk baru,” ujarnya. Namun, ia juga mengakui bahwa Meta harus membangun layanan untuk pelanggan besar. Pertanyaan berulang dari analis tentang kapan investasi ini akan membuahkan hasil belum dijawab secara memuaskan.
Penurunan arus kas ini merupakan yang terendah sejak akhir 2022, saat Meta menghadapi sorotan serupa atas pengeluaran besar-besaran di metaverse—yang hingga kini telah mengakumulasi kerugian operasional lebih dari US$80 miliar melalui divisi Reality Labs. Kini, Meta mengalokasikan hingga US$145 miliar untuk infrastruktur AI tahun ini, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya, dan menjadi bagian dari proyeksi belanja Big Tech yang melampaui US$700 miliar pada 2026.
Di tengah hiruk-pikuk belanja AI, Meta masih bergantung hampir sepenuhnya pada pendapatan iklan. Meski pendapatan melonjak 28% menjadi US$60,8 miliar—tercepat sejak akhir 2021—laba per saham hanya US$6,18, di bawah ekspektasi analis sebesar US$7,22. “Belanja AI Meta mudah dirayakan ketika margin masih melebar. Kini, biaya mulai terlihat di angka,” ujar Mike Proulx, eksekutif senior Forrester. Ia menambahkan bahwa Meta tidak menghabiskan miliaran dolar hanya untuk memperbaiki Facebook dan Instagram, melainkan untuk menciptakan bisnis baru.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat Meta memiliki basis pengguna besar di Tanah Air. Jika investasi AI berhasil, layanan seperti rekomendasi konten dan iklan di Facebook serta Instagram bisa semakin canggih. Namun, jika tekanan finansial berlanjut, Meta mungkin menaikkan tarif iklan atau mengurangi layanan di pasar berkembang. Belum lagi, tuntutan hukum senilai US$1,4 triliun dari empat negara bagian AS atas tuduhan kecanduan remaja bisa berdampak pada kebijakan moderasi konten global, termasuk di Indonesia.
Meta juga menghadapi risiko hukum dan regulasi di Uni Eropa dan AS terkait isu keamanan remaja. CFO Susan Li mengungkapkan bahwa biaya hukum dan pesangon restrukturisasi—yang memangkas 10% tenaga kerja atau sekitar 8.000 karyawan pada Mei—telah menekan laba operasional. Tanpa beban tersebut, laba operasional seharusnya naik 9%, namun kenyataannya malah turun 8%.
“Kami terus menghadapi pengawasan terkait isu remaja di beberapa pasar dan memiliki sejumlah persidangan remaja yang dijadwalkan tahun ini di AS, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kerugian material,” ujar Li dalam pernyataan pendapatan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Meta mampu menyeimbangkan ambisi AI dengan kesehatan finansial, terutama ketika pendapatan iklan—yang menjadi tulang punggung—mulai melambat. Dengan belanja modal yang terus membengkak dan risiko hukum yang mengintai, investor akan mencermati apakah Zuckerberg mampu membuktikan bahwa agen AI personal benar-benar menjadi ladang emas baru, atau justru menjadi lubang hitam berikutnya seperti metaverse.



