BBC Hentikan Live at the Apollo, Komedian Kehilangan Panggung Legendaris
Baca dalam 60 detik
- Penelitian psikolinguistik menunjukkan bahwa kemampuan memaki secara kontekstual justru menandakan penguasaan kosakata yang luas dan kecerdasan linguistik.
- Umpatan spontan berfungsi sebagai pelepasan emosi jujur dan mekanisme biologis pereda stres melalui pelepasan endorfin.
- Meski memiliki manfaat, normalisasi kata kasar di semua situasi justru akan menghilangkan efek katarsisnya, sehingga konteks tetap menjadi kunci.

Lembaga penyiaran publik Inggris, BBC, mengumumkan penghentian tiga program hiburan populer—Live at the Apollo, Celebrity Mastermind, dan Blankety Blank—dalam upaya menekan belanja hingga £500 juta selama tiga tahun ke depan. Keputusan ini langsung menuai kritik, terutama dari kalangan komedian yang menganggap Live at the Apollo sebagai panggung penting bagi talenta muda.
Terry Christian, komedian berusia 66 tahun, menyebut hilangnya Live at the Apollo sebagai “tragedi terbesar” dalam gelombang efisiensi BBC. Acara yang digelar di Hammersmith Apollo, London Barat itu telah menjadi ajang bagi komedian anyar untuk diperkenalkan ke publik luas. “Bagi komedian muda, ini adalah batu loncatan,” ujar Christian dalam wawancara di Good Morning Britain, Kamis (30/07/26).
Dua dari tiga acara tersebut, Live at the Apollo dan Celebrity Mastermind, masih akan merilis satu musim terakhir sebelum resmi berakhir. Sementara itu, Blankety Blank yang dipandu Bradley Walsh sudah lebih dulu kehilangan pembawanya. Walsh mengaku mundur karena kesibukan, termasuk proyek Gladiators dan tur live bersama grup komedi Prat Pack. “Saya benar-benar tidak punya waktu,” ujarnya kepada Radio Times.
Keputusan ini memicu kekhawatiran bahwa BBC akan terus memangkas program lain di masa depan. Spekulasi publik menguat setelah pihak korporasi menyatakan langkah penghematan tambahan akan diumumkan kemudian. Meski versi reguler Mastermind selamat, nasib acara kuis lainnya masih belum jelas.
Bagi penikmat hiburan ringan di Indonesia, pemotongan ini mengingatkan pada tren serupa di stasiun TV nasional yang kerap mengganti acara karena tekanan rating dan biaya produksi. Namun, berbeda dengan BBC yang berstatus publik, stasiun swasta Indonesia lebih leluasa menyesuaikan slot iklan. Pertanyaannya, apakah lembaga penyiaran publik seperti TVRI patut belajar dari langkah drastis BBC dalam menjaga anggaran tanpa mengorbankan panggung bagi kreator muda?
“Saya rasa tragedi terbesar adalah Live at the Apollo karena acara itu untuk komedian muda dan memperkenalkan mereka pada publik.” — Terry Christian
Dengan satu musim tersisa, Live at the Apollo masih menyisakan pertanyaan: akankah tayangan perpisahan itu menjadi panggung terakhir yang cukup bermakna, atau justru mengukuhkan bahwa era komedi di televisi linear semakin terpinggirkan oleh platform digital?



