Saudi Ikut Menyerang Proksi Iran, Diplomasi AS-Tehran Kian Buntu
Baca dalam 60 detik
- Arab Saudi untuk pertama kalinya bergabung dalam serangan militer bersama AS terhadap kelompok proksi Iran di Irak, menandai eskalasi regional yang belum pernah terjadi.
- Upaya gencatan senjata yang sempat disepakati pada Juni lalu runtuh, meninggalkan ketidakpercayaan mendalam antara Washington dan Teheran tanpa jalan negosiasi yang jelas.
- Kekhawatiran atas menipisnya stok rudal pencegat Patriot dan THAAD AS serta dampak pada harga minyak global menjadi tekanan baru di tengah konflik yang melebar.

Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru setelah Arab Saudi secara terbuka ikut serta dalam serangan militer terhadap kelompok-kelompok yang didukung Teheran. Langkah ini terjadi di tengah mandeknya kembali jalur diplomasi yang sudah rapuh, mempertegas jurang ketidakpercayaan antara dua negara yang telah lama bermusuhan.
Dalam 24 jam terakhir, Iran mengklaim telah menembakkan rudal balistik ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, pusat militer utama AS di kawasan itu. Presiden Donald Trump menyatakan rudal tersebut berhasil dicegat. Sementara itu, Saudi bersama AS melancarkan serangan ke sejumlah lokasi logistik dan persenjataan milisi proksi Iran di Irak. Ini adalah operasi gabungan pertama yang diumumkan secara publik antara Washington dan Riyadh, menandai perluasan konflik yang kini melibatkan hampir seluruh negara di Timur Tengah.
Serangan pesawat nirawak (drone) juga dilaporkan memicu kebakaran di dua kapal pengangkut gas alam di pelabuhan Mesir, sekutu dekat AS yang selama ini relatif terhindar dari aksi militer langsung. Jika serangan itu dikonfirmasi berasal dari Iran atau sekutunya, hal tersebut akan menjadi eskalasi signifikan yang memperluas medan pertempuran.
Ketegangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu Trump di Gedung Putih untuk pertama kalinya sejak perang diluncurkan pada 28 Februari. Seorang pejabat Israel yang mengetahui isi pertemuan mengatakan Netanyahu menegaskan bahwa AS, bukan Israel, yang memegang kendali dalam urusan dengan Iran. Namun, di balik layar, para pejabat Israel khawatir Trump, yang tengah bersiap menghadapi pemilu paruh waktu November, berusaha "menjaga api perang tetap kecil" agar tidak mengganggu perekonomian dan popularitasnya.
Kekhawatiran itu bukannya tanpa dasar. Menurut analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), pertempuran melawan Iran telah menguras stok rudal Patriot dan THAAD AS yang sudah menipis. Panglima Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, telah melaporkan langsung kepada Trump bahwa kondisi persenjataan dapat mempengaruhi operasi militer selanjutnya.
Diplomasi antara kedua negara juga tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Seorang pejabat senior AS mengakui bahwa pemerintah Trump saat ini tidak memiliki strategi aktif untuk merundingkan pengakhiran konflik. Mediator internasional pun kesulitan menemukan titik awal untuk memulai kembali perundingan. Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, menilai bahwa para pejabat senior Iran sebelumnya hampir bulat menyetujui nota kesepahaman gencatan senjata pada pertengahan Juni, namun kini tidak ada satu pun yang percaya Trump adalah mitra negosiasi yang dapat diandalkan. Sebaliknya, Trump juga memiliki kesan yang sama terhadap Iran.
Sejarah panjang negosiasi AS-Iran sejak 1979 memang dipenuhi kegagalan dan saling curiga. Kesepakatan nuklir 2015 yang dirintis Presiden Barack Obama sempat menjadi titik terang, namun ditariknya AS dari perjanjian itu oleh Trump pada 2018, ditambah kampanye tekanan maksimum dan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani pada 2020, telah mengembalikan hubungan ke titik nadir. Kini, dengan Saudi ikut memanas, Mesir mulai terseret, dan stok rudal AS menipis, pertanyaan besarnya adalah: akankah konflik ini benar-benar meledak menjadi perang terbuka, atau masih ada celah untuk kembali ke meja perundingan?



