Ranger Leuser Bertahan 5 Jam di Bawah Kendali Harimau Sumatera, Ini Pelajaran Pentingnya
Baca dalam 60 detik
- Seorang ranger di Aceh selamat setelah diintai harimau sumatera selama lima jam tanpa perlawanan, mengungkap pola perilaku satwa yang terluka.
- Serangan pertama terhadap ranger di Leuser ini dipicu oleh luka lama pada harimau, diduga akibat konflik sebelumnya dengan manusia.
- Meningkatnya interaksi manusia-harimau di Aceh menjadi alarm kerusakan habitat dan perlunya penguatan patroli serta penegakan hukum.

Rusdianto, ranger Forum Konservasi Leuser (FKL), menghabiskan hampir lima jam terbaring di lantai hutan dengan luka gigitan dan cakaran, sementara seekor harimau sumatera betina mengawasinya dari jarak tiga meter. Peristiwa pada 28 Januari 2023 di hutan Sempali, Aceh Selatan, itu menjadi bukti betapa rapuhnya batas antara manusia dan satwa liar di kawasan konservasi.
Patroli rutin bersama tiga rekannya—Hari Kafri, Ardiman, dan Asyari—berubah menjadi mimpi buruk ketika harimau tiba-tiba muncul dan menerjang. Dua rekannya berhasil menyelamatkan diri dengan melompat ke sungai dan memanjat pohon, sementara Rusdianto memilih menyerah setelah diterkam di kepala. “Kalau mau membunuh saya, pasti dari awal menyerang tengkuk atau leher,” ujarnya kemudian, mengingat naluri predator yang justru tidak dilanjutkan.
Tim gabungan FKL, warga, dan aparat berhasil mengevakuasi Rusdianto sekitar pukul 20.00 WIB. Proses penyelamatan berlangsung menegangkan karena auman harimau masih terdengar dari sekitar lokasi. Butuh satu tahun bagi Rusdianto untuk pulih secara fisik, meski ia kini tak lagi mampu bertugas patroli jarak jauh dan dialihkan ke program restorasi hutan di Sarah Baru, Kluet Tengah.
Yang menarik, pengalaman nyaris maut itu tidak membuat Rusdianto membenci harimau. Ia justru meyakini bahwa satwa tersebut sedang marah karena ulah manusia. Informasi dari rekan-rekan FKL menguatkan dugaan itu: harimau yang menyerangnya memiliki bekas luka sayatan akibat benda tajam. “Saya memahami kenapa ia sangat agresif,” katanya. Hal ini sejalan dengan kearifan lokal Aceh yang menyebut harimau tidak akan menyerang manusia jika manusia tidak lebih dulu berbuat salah.
Ibnu Hasyim, Koordinator Database FKL, menegaskan bahwa perjumpaan antara ranger dan harimau sebenarnya bukan hal langka. Namun, biasanya kedua pihak saling menghindar. “Ini serangan pertama terhadap ranger selama patroli di Leuser,” ujarnya. Dugaan trauma akibat interaksi buruk dengan manusia menjadi penjelasan paling masuk akal atas agresivitas harimau tersebut.
Dari sisi konservasi, Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata mengakui bahwa belum ada sensus terbaru populasi harimau sumatera di Aceh. Estimasi terakhir masih berkisar 160–170 individu, relatif konstan di Kawasan Ekosistem Leuser dan Ulu Masen. Namun, meningkatnya interaksi manusia dengan harimau menjadi indikator tekanan habitat yang kian nyata. “Kerusakan habitat membuat mereka masuk ke area yang bersinggungan dengan aktivitas manusia,” jelasnya. Sebagian besar interaksi terjadi di dalam atau sekitar kawasan konservasi, termasuk hutan lindung.
Kemunculan harimau di sekitar permukiman sering dipicu oleh ternak yang dilepas di sekitar hutan. Terutama saat harimau muda belajar berburu atau mencari mangsa, peluang konflik membesar. Ujang berharap penguatan patroli, penegakan hukum, dan perlindungan habitat menjadi langkah kunci untuk menjaga populasi sekaligus mengurangi konflik. Aktivitas perburuan di hutan Leuser disebut relatif mereda setelah operasi penegakan hukum bersama sejumlah instansi.
Pertanyaan yang tersisa: mampukah upaya konservasi saat ini mengimbangi laju kerusakan habitat yang mendorong satwa liar keluar dari zona amannya? Atau akankah kisah Rusdianto menjadi pengingat bahwa konflik manusia-satwa akan terus berulang selama keseimbangan ekosistem belum pulih?



