PGA Tour Hukum Trey Mullinax Enam Bulan Akibat Doping
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Amerika Trey Mullinax dijatuhi sanksi larangan bertanding enam bulan oleh PGA Tour setelah positif menggunakan zat terlarang.
- Mullinax mengaku menggunakan obat untuk kondisi medis yang didiagnosis sejak kuliah tanpa izin, dan menerima hukuman tanpa banding.
- Kasus ini menjadi pengingat bagi atlet Indonesia tentang pentingnya kepatuhan terhadap prosedur pengecualian medis dalam anti-doping.

PGA Tour menjatuhkan sanksi larangan bertanding selama enam bulan kepada Trey Mullinax setelah pegolf Amerika Serikat itu dinyatakan positif menggunakan zat yang dilarang dalam kebijakan anti-doping. Hukuman ini diumumkan pada Rabu (28/7) dan mulai berlaku efektif sejak 16 Juli 2026, dengan Mullinax baru bisa kembali berlaga pada 16 Januari 2027.
Pegolf berusia 34 tahun itu diketahui bekerja sama penuh dengan proses investigasi PGA Tour dan menerima hukuman tanpa mengajukan banding. Dalam pernyataan resminya, Mullinax mengaku menggunakan obat untuk mengobati kondisi medis yang pertama kali didiagnosis saat ia masih duduk di bangku kuliah. Namun, ia tidak mengajukan permohonan pengecualian medis sesuai aturan PGA Tour.
"Saya bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi," ujar Mullinax dalam pernyataan yang dirilis PGA Tour. Ia menegaskan tidak pernah menggunakan zat tersebut dengan tujuan meningkatkan performa di lapangan. Mullinax juga menambahkan bahwa ia tidak menyadari perlunya mendapatkan persetujuan terlebih dahulu sebelum menggunakan obat tersebut.
Mullinax, yang gagal lolos cut dalam dua turnamen PGA Tour musim ini, hanya memiliki satu gelar di sirkuit elit golf Amerika itu, yaitu kemenangan di Barbasol Championship 2022 di Keene Trace Golf Club, Kentucky. Prestasi itu menjadi puncak kariernya sejauh ini, meskipun ia juga beberapa kali tampil di ajang major seperti The Open Championship 2023.
Kasus Mullinax menyoroti pentingnya pemahaman atlet terhadap regulasi anti-doping, terutama terkait prosedur Therapeutic Use Exemption (TUE) atau pengecualian medis. Banyak atlet, tidak hanya di golf, yang terjebak dalam pelanggaran serupa karena ketidaktahuan atau kelalaian administratif. PGA Tour sendiri memiliki sistem yang memungkinkan atlet mengajukan TUE jika memang membutuhkan obat tertentu untuk kondisi medis yang sah.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bagi atlet-atlet nasional, terutama yang berlaga di kancah internasional, untuk selalu memeriksa status obat yang digunakan dan mengurus perizinan yang diperlukan. Badan Anti-Doping Indonesia (LADI) dan organisasi olahraga terkait terus mengedukasi atlet tentang pentingnya kepatuhan terhadap aturan anti-doping, baik di level nasional maupun internasional.
Ke depannya, PGA Tour diperkirakan akan terus memperketat pengawasan anti-doping seiring meningkatnya kesadaran akan integritas olahraga. Pertanyaannya, apakah kasus Mullinax akan mendorong lebih banyak atlet untuk lebih proaktif dalam mengurus TUE sebelum menggunakan obat-obatan tertentu?



