Hilaria Baldwin Akui Sering Salah Hitung Jumlah Anak: 'Saya Panggil Semua Nama'
Baca dalam 60 detik
- Hilaria Baldwin, istri aktor Alec Baldwin, mengaku kerap salah menyebut nama anak-anaknya karena jumlahnya yang banyak.
- Dalam podcast, ia mengungkap perbedaan peran pengasuhan dengan suami: ia sebagai 'alpha parent' yang tegas, Alec lebih mengatur jadwal sosial.
- Alec Baldwin menekankan pentingnya menanamkan harapan pada anak di tengah situasi sosial yang makin suram.

Menjadi ibu dari tujuh anak kandung dan satu anak tiri bukanlah tugas ringan. Hilaria Baldwin, istri aktor Alec Baldwin, dengan jujur mengakui bahwa ia kerap 'salah hitung' saat memanggil buah hatinya. Dalam podcast Whine Down with Jana Kramer, perempuan 42 tahun itu menceritakan kebingungannya mengingat nama delapan anak yang tinggal serumah.
"Percayalah, saya sering salah hitung mereka! Saya tipe ibu yang, ketika ada anak melakukan sesuatu, saya akan menyebut semua nama sampai ketemu yang benar. Akhirnya saya bilang, 'Hei, siapapun kamu, hentikan!'โ ujar Hilaria sambil tertawa. Ia memiliki Ilaria, Marรญa, Eduardo, Romeo, Leonardo, Rafael, Carmen, serta putri Alec dari pernikahan sebelumnya, Ireland.
Dalam perbincangan yang sama, Hilaria juga membeberkan dinamika pengasuhan bersama Alec. Meski sama-sama memiliki temperamen kuat, mereka membagi peran secara gamblang. "Saya adalah alpha parent. Ada hal-hal tertentu yang harus ia tanya izin dulu kepada saya. Misalnya, 'Boleh mereka makan ini?' Jawaban saya, 'Tidak.' Atau 'Boleh mereka pergi?' 'Tidak,'" jelasnya. Namun, untuk urusan jadwal sosial, Alec yang lebih dominan. "Kami masing-masing punya topi yang kami pakai," katanya.
Pengakuan Hilaria ini muncul tak lama setelah Alec Baldwin berbicara kepada E! News tentang nilai utama yang ingin ia tanamkan pada anak-anaknya: harapan. "Saya ingin anak-anak saya tumbuh dengan harapan, karena sekarang ini lebih suram dari yang pernah saya lihat," ujar Alec. Ia menekankan bahwa anak-anak memiliki kurva belajar latenโmereka memahami situasi meski tak selalu mengungkapkannya. "Kita harus terus berjuang untuk membuktikan kepada anak-anak bahwa kita tidak boleh menyerah. Harapan dan perjuangan adalah kunci untuk mengambil alih kendali kekuasaan dari mereka yang menyalahgunakannya," tambahnya.
Pernyataan Alec ini relevan dengan kondisi sosial-politik di Amerika Serikat yang memanas menjelang pemilu. Namun, pesan tentang harapan dan perjuangan juga bergema di Indonesia, di mana banyak orang tua khawatir akan masa depan anak di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik. Fenomena orang tua yang kewalahan mengurus banyak anak, seperti yang dialami Hilaria, juga bukan hal asing di Indonesia, terutama di keluarga besar yang masih menganut nilai tradisional.
Kisah keluarga Baldwin ini mengingatkan bahwa di balik gemerlap Hollywood, tantangan pengasuhan tetap sama: konsistensi, pembagian peran, dan yang terpenting, menanamkan optimisme pada generasi penerus. Pertanyaannya, mampukah para orang tua di mana pun berada meniru ketegasan Hilaria dan visi Alec dalam membentuk karakter anak di tengah derasnya arus informasi dan tekanan sosial?



