Malagò: Donnarumma Restui Mancini, UEFA vs FIFA Makin Panas
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIGC Giovanni Malagò mengungkapkan bahwa kapten Italia Gianluigi Donnarumma menyetujui penunjukan Roberto Mancini sebagai pelatih baru, meredakan kekhawatiran akan reaksi negatif pemain.
- Di tengah kekacauan internal timnas, hubungan UEFA dan FIFA mencapai titik konflik total setelah rencana FIFA menjual saham kompetisi, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta.
- Malagò akan mengeluarkan pernyataan resmi setelah pertemuan dengan federasi Eropa, menegaskan posisi Italia bersama UEFA namun tetap menunggu sikap formal.

Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Giovanni Malagò, mengungkapkan bahwa Gianluigi Donnarumma, kapten timnas Italia, memberikan restu atas penunjukan Roberto Mancini sebagai pelatih anyar Gli Azzurri. Namun, di balik kelegaan itu, Malagò harus menghadapi badai lain: konflik terbuka antara UEFA dan FIFA yang dinilainya sudah mencapai titik tak terelakkan.
Malagò baru sebulan menjabat, namun langsung diterpa berbagai masalah. Ia menciptakan posisi direktur teknis Club Italia untuk Paolo Maldini dan penasihat khusus Leonardo. Namun, keduanya mengundurkan diri akhir pekan lalu setelah Andrea Pirlo dicegah menjadi pelatih karena perannya sebagai duta merek perusahaan taruhan Rusia yang dilarang di Italia. Sebagai gantinya, Malagò menunjuk Mancini sebagai pelatih, dengan Claudio Ranieri sebagai direktur teknis dan Presiden Club Italia. Keduanya diperkenalkan dalam konferensi pers bersama, Jumat (14/2).
Kekhawatiran sempat muncul bahwa para pemain akan marah mengingat Mancini hengkang pada 2023 untuk menangani timnas Arab Saudi dengan gaji menggiurkan. Namun, kekhawatiran itu sirna. “Setelah konferensi pers kemarin, mantan Presiden FIGC Gabriele Gravina menelepon saya dan mengatakan, ‘Bagus, inilah yang akan saya lakukan, memilih Mancini dan Ranieri’,” ungkap Malagò. “Tadi malam, Gigio Donnarumma mengirim pesan teks: ‘Presiden, terima kasih, ini yang saya dan skuad inginkan’.”
Di luar hiruk-pikuk internal timnas, Malagò juga harus menghadapi keretakan hubungan antara UEFA dan FIFA. Ketegangan memuncak setelah Presiden FIFA Gianni Infantino mengumumkan rencana menjual saham kompetisinya, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta. Langkah ini langsung memicu reaksi keras dari UEFA. “Tadi malam, sekretaris jenderal UEFA meminta saya bergabung dalam panggilan video dengan liga-liga paling bergengsi di Eropa, seperti Spanyol, Prancis, Jerman, dan Inggris. Itu menunjukkan betapa UEFA menghargai kami,” jelas Malagò.
Malagò mengaku telah menerima dokumen terkait proyek FIFA yang dinilainya tidak lazim. Dalam panggilan video, Presiden UEFA Aleksander Čeferin secara tegas menentang rencana tersebut. “Besok akan ada pertemuan, saya tidak bisa bilang formal atau tidak, dengan semua federasi di Eropa. Saya sudah melihat posisi kuat, bahkan di luar dunia sepak bola. Tidak diragukan lagi, situasi antara UEFA dan FIFA adalah konflik total. Kami sudah tahu, tapi ini menciptakan penghalang yang tak teratasi antara dua dunia,” ujar Malagò.
Ia mengakui bahwa konflik ini datang di saat yang tidak tepat. “Sejujurnya, saya benar-benar bisa hidup tanpa ini sekarang. Kami akan merilis pernyataan besok dengan segala implikasinya. Kami di Eropa, kami bersama UEFA, tapi kita lihat saja posisi formalnya,” tambahnya.
Bagi Indonesia, konflik UEFA-FIFA ini patut dicermati. Sebagai anggota FIFA, Indonesia terikat pada kebijakan global, namun juga memiliki hubungan erat dengan AFC yang berada di bawah naungan FIFA. Jika FIFA benar-benar menjual saham kompetisi, dampaknya bisa terasa pada distribusi pendapatan dan format turnamen. Sementara itu, dukungan Italia terhadap UEFA menunjukkan bahwa blok Eropa masih menjadi kekuatan dominan yang bisa mempengaruhi arah sepak bola dunia. Pertanyaannya, akankah negara-negara Asia, termasuk Indonesia, ikut terseret dalam pusaran konflik ini?



