Raksasa Teknologi AS Gencar Utang untuk AI, Imbal Hasil Obligasi Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Amazon, Alphabet, Meta, Oracle, dan Microsoft diperkirakan menerbitkan obligasi hingga US$250 miliar pada 2026, naik 79% dari tahun sebelumnya, untuk mendanai belanja AI.
- Kenaikan pasokan obligasi memicu pelebaran spread hingga 118 basis poin untuk tenor panjang, sementara rasio permintaan investor turun drastis dari 5 kali menjadi di bawah 2 kali.
- Fenomena ini berpotensi meningkatkan biaya pendanaan korporasi global, termasuk bagi perusahaan teknologi di Indonesia yang bergantung pada pasar modal internasional.

Belanja besar-besaran perusahaan teknologi Amerika Serikat untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mulai membebani pasar obligasi. Lima raksasa yang dijuluki hyperscaler—Amazon, Alphabet, Meta Platforms, Oracle, dan Microsoft—telah menerbitkan utang korporasi dengan imbal hasil yang semakin tinggi seiring menurunnya antusiasme investor terhadap pasokan surat utang yang melimpah.
Berdasarkan analisis Reuters terhadap data LSEG, Amazon, Alphabet, Meta, dan Oracle telah menerbitkan obligasi senilai sekitar US$194 miliar pada periode Januari hingga 7 Juli 2026. Angka itu melonjak 79% dibandingkan total penerbitan sepanjang 2025 yang mencapai US$108 miliar. Goldman Sachs memperkirakan penerbitan obligasi oleh lima hyperscaler tahun ini bisa menembus US$250 miliar, dan meningkat menjadi US$400 miliar pada 2027.
Lonjakan pasokan ini mendorong pelebaran spread obligasi—selisih imbal hasil terhadap surat utang bebas risiko—di semua tenor. Untuk Amazon, Alphabet, Meta, dan Oracle, median spread obligasi tenor 2–4 tahun naik menjadi 40 basis poin dari sebelumnya 30 basis poin pada 2025. Sementara itu, spread tenor 5–7 tahun meningkat dari 50 menjadi 60 basis poin, dan tenor di atas 20 tahun melebar dari 108,5 menjadi 118 basis poin. Di pasar sekunder, 78 dari 91 obligasi hyperscaler yang terbit pada 2026 tercatat memiliki imbal hasil lebih tinggi pada 28 Juli dibandingkan saat penerbitan, dengan kenaikan median sekitar 22 basis poin.
Colby Stilson, Head of Fixed Income di Brown Advisory, menilai perusahaan teknologi saat ini berada dalam fase investasi besar dengan taruhan bahwa laba atas modal akan terwujud di masa depan. "Saya tidak melihat pasokan itu akan berkurang dalam waktu dekat. Secara teknis, hal ini menekan spread," ujarnya. Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran bahwa utang yang terus mengalir dapat menekan harga obligasi di pasar sekunder.
Indikator lain yang menunjukkan kelelahan investor adalah rasio permintaan (cover ratio). Apollo Global Management mencatat rasio ini turun dari hampir 5 kali pada Februari menjadi di bawah 2 kali pada Juli. Artinya, untuk setiap dolar obligasi yang ditawarkan, investor hanya memesan kurang dari dua dolar—jauh dari kondisi awal tahun ketika permintaan lima kali lipat. Penurunan ini mengindikasikan bahwa penerbit mungkin harus menawarkan spread lebih lebar untuk menarik pembeli di masa mendatang.
Contoh nyata terlihat pada dua penerbitan obligasi Amazon. Menurut laporan AlphaSense, obligasi dolar AS Amazon pada Maret 2026 kelebihan permintaan 3,4 kali, sementara penerbitan Juli hanya 1,6 kali. Sage Advisory menambahkan bahwa obligasi 30 tahun Amazon yang baru terbit mengalami pelebaran spread sekitar 20 basis poin. Perusahaan itu memperkirakan total utang dolar AS hyperscaler telah lebih dari dua kali lipat sejak September 2025 menjadi lebih dari US$360 miliar.
Fenomena ini tidak hanya berdampak di Amerika Serikat. Bagi Indonesia, kenaikan imbal hasil obligasi korporasi global berpotensi meningkatkan biaya pendanaan bagi perusahaan teknologi dalam negeri yang menerbitkan surat utang di pasar internasional. Selain itu, investor institusi Indonesia yang memiliki portofolio obligasi global mungkin menghadapi penurunan nilai pasar jika tren ini berlanjut. Di sisi lain, peluang investasi di obligasi hyperscaler dengan imbal hasil lebih tinggi bisa menarik minat investor domestik yang mencari aset berdenominasi dolar AS.
Goldman Sachs memperingatkan bahwa kejenuhan pasar dan konsentrasi penerbit akan menjadi kendala yang semakin mengikat seiring percepatan penerbitan. Dengan belanja modal hyperscaler diperkirakan mencapai US$750 miliar pada 2026—hampir setara dengan arus kas operasi sebesar US$778 miliar—penerbitan utang diproyeksikan setara sepertiga dari belanja modal tahun ini dan 35% pada 2027. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah pasar menyerap gelombang utang berikutnya tanpa gejolak berarti?



