Mancini Akui Tinggalkan Italia Adalah Kesalahan: 'Seperti Kehilangan Cinta Hidupku'
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini secara terbuka menyesali keputusannya mundur sebagai pelatih Timnas Italia pada 2023 untuk menangani Arab Saudi, menyebutnya sebagai kesalahpahaman yang fatal.
- Pelatih yang membawa Italia juara Euro 2020 itu kembali ditunjuk setelah FIGC gagal merekrut Ancelotti, Guardiola, dan Pirlo karena berbagai kendala.
- Mancini bertekad membangun kembali kepercayaan publik dengan permainan ofensif dan target lolos ke Piala Dunia, setelah Italia absen tiga edisi berturut-turut.

Roberto Mancini secara blak-blakan mengakui bahwa keputusannya meninggalkan kursi pelatih Timnas Italia pada 2023 merupakan kesalahan besar yang sangat ia sesali. Dalam konferensi pers perkenalannya sebagai pelatih anyar, ia menyamakan pengalaman itu dengan kehilangan cinta sejati.
“Apa yang terjadi tiga tahun lalu adalah kurangnya komunikasi antara saya dan Presiden FIGC saat itu, Gabriele Gravina. Jika kami berbicara langsung, semuanya pasti berbeda,” ujar Mancini, yang kembali dipercaya menukangi Gli Azzurri setelah kekacauan perburuan pelatih dalam tiga pekan terakhir.
Kepulangan Mancini terjadi setelah serangkaian drama internal FIGC. Paolo Maldini dan Leonardo yang ditunjuk sebagai direktur teknis dan penasihat khusus, mengundurkan diri karena tidak mendapat restu untuk merekrut pelatih pilihan mereka. Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola menolak tawaran, sementara Andrea Pirlo gagal karena terikat kontrak sebagai duta merek perusahaan taruhan Rusia yang dilarang di Italia. Presiden FIGC Giovanni Malagò akhirnya memanggil Mancini dan menunjuk Claudio Ranieri sebagai direktur teknis.
Mancini mengaku siap menghadapi kritik publik yang menilai langkah FIGC mundur ke belakang. “Saya sadar banyak yang menentang saya. Saya akan berusaha membuat tim bermain sangat baik sehingga mereka bisa jatuh cinta lagi dan memaafkan saya,” tegasnya.
Pelatih berusia 59 tahun itu menekankan bahwa skuad Italia saat ini memiliki talenta muda yang potensial. Target jangka pendeknya adalah membawa Italia lolos ke Piala Dunia, setelah gagal di tiga edisi terakhir—termasuk edisi 2022 yang terjadi di bawah kepemimpinannya. “Jika Italia lolos ke Piala Dunia, kami akan menjadi tim yang berbahaya. Meski bukan favorit, kami bisa merepotkan lawan,” ujarnya.
Mancini juga menyinggung hubungannya dengan Ranieri, yang tahun lalu menolak tawaran menangani Italia saat masih melatih Roma. “Saya bersyukur dia menolak, karena sekarang kami bisa bersama. Saya sudah mengklarifikasi situasi dengan Gravina dan mengambil tanggung jawab,” katanya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kembalinya Mancini ke Italia memberikan pelajaran tentang pentingnya komunikasi dan konsekuensi dari keputusan impulsif. Di tengah hiruk-pikuk sepak bola nasional yang kerap diwarnai pergantian pelatih mendadak, kisah Mancini bisa menjadi refleksi bahwa kesalahan masa lalu bukan akhir segalanya, asalkan ada kemauan untuk memperbaiki.
Ke depan, tantangan Mancini tidak ringan. Ia harus membangun kembali kepercayaan publik yang sempat luntur, sekaligus membentuk tim yang kompetitif untuk kualifikasi Euro 2024 dan Piala Dunia 2026. Pertanyaannya, mampukah ia mengulang keajaiban Euro 2020, atau justru akan kembali ditinggalkan jika hasil tidak memuaskan?



