Apple Bersiap Catat Pertumbuhan Penjualan Kuartal Juni Terkuat dalam Lima Tahun
Baca dalam 60 detik
- Keputusan Apple tidak menaikkan harga iPhone di tengah lonjakan biaya komponen membuat pengiriman global naik 3% dan pangsa pasar mendekati 20%.
- Strategi tersebut membantu Apple merebut kembali status perusahaan paling bernilai dari Nvidia, di tengah keraguan investor terhadap belanja AI raksasa teknologi lain.
- Analis memperingatkan bahwa rencana kenaikan harga iPhone seri terbaru pada September berpotensi menguji elastisitas permintaan konsumen.

Apple diprediksi membukukan pertumbuhan penjualan kuartal Juni terkuat dalam lima tahun terakhir, setelah keputusan perusahaan mempertahankan harga iPhone di tengah tekanan biaya komponen terbukti menjadi jurus jitu merebut pangsa pasar. Namun, investor mulai bertanya-tanya berapa lama raksasa teknologi asal Cupertino itu bisa menahan diri untuk tidak menaikkan harga jual produk andalannya.
Pada Juni lalu, Apple menaikkan harga iPad dan MacBook untuk mengompensasi kenaikan biaya memori dan chip penyimpanan yang dipicu oleh pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) secara besar-besaran. Namun, iPhone—yang menyumbang lebih dari separuh pendapatan perusahaan—dibiarkan tidak tersentuh. Keputusan itu kontras dengan langkah para pesaing yang terpaksa membebankan biaya lebih tinggi kepada konsumen, sehingga menyebabkan pengiriman ponsel global pada April-Juni merosot ke level terendah dalam 13 tahun.
Hasilnya, pengiriman iPhone justru naik 3% dan pangsa pasar Apple melonjak mendekati 20%, menurut firma riset Counterpoint. Ditambah dengan fakta bahwa Apple tidak menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk pusat data AI seperti yang dilakukan kompetitor, perusahaan berhasil merebut kembali status perusahaan paling bernilai di dunia dari Nvidia setelah dua tahun. Saham Apple, yang telah naik hampir 25% sepanjang tahun ini, sempat mendorong kapitalisasi pasar menembus US$5 triliun untuk pertama kalinya pada pekan lalu.
“Apple awalnya dicibir banyak investor karena tidak ikut siklus investasi AI. Kini, mereka justru dihargai karena investor mulai mempertanyakan hubungan antara belanja besar-besaran perusahaan teknologi dan imbal hasilnya,” ujar Dan Morgan, manajer portofolio Synovus Trust yang memegang saham Apple. Pekan lalu, Alphabet—induk Google—mengejutkan pasar dengan mencatatkan arus kas bebas negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Meski kinerja jangka pendek cemerlang, tekanan harga masih membayangi. Morgan memperkirakan Apple akan menaikkan harga iPhone pada peluncuran seri terbaru yang biasanya berlangsung September. Analis Morgan Stanley menilai permintaan produk inti Apple relatif inelastis—iPhone menjadi yang paling tidak elastis, diikuti Mac dan iPad—sehingga kenaikan harga kemungkinan tidak akan mengganggu permintaan secara signifikan, terutama mengingat tantangan pasokan yang dihadapi pesaing.
Bagi konsumen Indonesia, tren ini patut dicermati. Meski Apple belum secara resmi menaikkan harga iPhone di Tanah Air, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kebijakan bea masuk dapat memperkuat dampak kenaikan harga global. Jika Apple benar-benar menaikkan harga pada September, harga iPhone di Indonesia berpotensi melonjak lebih tinggi dari kenaikan di pasar global, mengingat struktur pajak dan distribusi yang sudah membebani harga jual.
Pertanyaannya, akankah basis penggemar setia Apple di Indonesia tetap bertahan, atau mulai beralih ke merek lain yang menawarkan harga lebih kompetitif? Jawabannya akan menjadi indikator penting bagi strategi harga Apple di pasar negara berkembang ke depan.



