Cognizant Raup Pendapatan Lebih Rendah dari Target: Dampak AI dan Belanja IT yang Hati-hati
Baca dalam 60 detik
- Cognizant memproyeksikan pendapatan kuartal III di bawah ekspektasi analis karena klien menahan belanja proyek diskresioner.
- Perusahaan teknologi ini merevisi turun proyeksi pendapatan tahunan menjadi US$22,04โ22,35 miliar, di tengah pergeseran prioritas investasi ke infrastruktur data center.
- Langkah Cognizant memperkuat layanan modernisasi dan GenAI menjadi sinyal bagi perusahaan Indonesia yang tengah bertransformasi digital.

Cognizant Technology Solutions, salah satu penyedia jasa teknologi informasi global, mengumumkan perkiraan pendapatan kuartal ketiga yang berada di bawah perkiraan analis. Langkah hati-hati klien dalam mengucurkan belanja proyek teknologi yang bersifat diskresioner menjadi penyebab utama, seiring dengan meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) yang mengalihkan prioritas investasi ke infrastruktur pusat data.
Dalam laporan yang dirilis Rabu (29/7) waktu setempat, Cognizant memperkirakan pendapatan kuartal III berada di kisaran US$5,60 miliar hingga US$5,68 miliar. Angka ini lebih rendah dari estimasi rata-rata analis yang dihimpun LSEG sebesar US$5,70 miliar. Saham perusahaan langsung tertekan dan turun 3% dalam perdagangan pra-pasar.
Presiden Cognizant, Surya Gummadi, dalam pernyataan resmi mengatakan bahwa perusahaan tengah menghadapi lingkungan makro yang kompleks. โKlien kami masih bersikap hati-hati terhadap investasi besar, dan proyek-proyek kecil yang bersifat diskresioner juga masih lesu,โ ujarnya. Fenomena ini tidak hanya dialami Cognizant, tetapi juga menjadi tren di kalangan penyedia jasa TI global lainnya seperti Infosys dan Wipro yang juga melaporkan perlambatan pertumbuhan.
Menariknya, perusahaan melaporkan pendapatan kuartal II sebesar US$5,48 miliar, sesuai ekspektasi dan tumbuh 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, prospek ke depan justru direvisi ke bawah. Cognizant kini memperkirakan pendapatan tahunan antara US$22,04 miliar hingga US$22,35 miliar, turun dari proyeksi sebelumnya yang sebesar US$22,11โ22,64 miliar. Revisi ini mencerminkan ketidakpastian yang masih membayangi sektor teknologi global.
Salah satu faktor yang disebut Cognizant adalah pergeseran prioritas belanja klien. Perusahaan kini lebih memilih menginvestasikan dana ke infrastruktur pusat data untuk mendukung adopsi AI, ketimbang membeli perangkat lunak baru. Hal ini sejalan dengan laporan Gartner yang memperkirakan belanja global untuk pusat data akan tumbuh dua digit pada 2024, sementara belanja perangkat lunak enterprise melambat.
Bagi Indonesia, tren ini memberikan pelajaran berharga. Banyak perusahaan di Tanah Air yang tengah gencar melakukan transformasi digital, termasuk migrasi ke cloud dan implementasi AI. Namun, mereka perlu menyadari bahwa investasi teknologi bukan sekadar membeli perangkat lunak, melainkan juga membangun infrastruktur yang memadai. โPerusahaan Indonesia harus mulai memikirkan keseimbangan antara investasi di aplikasi dan infrastruktur pendukung, terutama jika ingin mengadopsi AI secara serius,โ ujar analis teknologi dari firma riset IDC Indonesia, Suryo Wibowo.
Cognizant sendiri tidak tinggal diam. Perusahaan terus memperluas kemampuannya untuk membantu klien memodernisasi platform lama dan menerapkan generative AI (GenAI) dalam skala besar. Langkah ini diharapkan dapat menjadi katalis pertumbuhan jangka panjang, meskipun dalam jangka pendek tekanan belanja klien masih terasa.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah tren kehati-hatian ini akan berlangsung hingga akhir tahun atau mulai mereda seiring dengan semakin matangnya adopsi AI. Bagi Cognizant dan para pesaingnya, kemampuan untuk menawarkan solusi yang tepat di tengah perubahan prioritas klien akan menjadi kunci untuk tetap kompetitif.



