Sandra Oh: Tak Menyesal Tinggalkan Grey's Anatomy di Puncak Karier
Baca dalam 60 detik
- Aktris Sandra Oh mengaku bersyukur bisa merencanakan sendiri kepergiannya dari serial Grey's Anatomy setelah sepuluh musim.
- Ia mendapat dukungan penuh dari kreator Shonda Rhimes untuk mengakhiri peran Dr. Cristina Yang secara bermartabat.
- Di luar layar, Oh menyoroti peningkatan representasi Asia di Hollywood yang dinilainya semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir.

Sandra Oh tidak menyesali keputusannya meninggalkan Grey's Anatomy pada 2014. Aktris berusia 55 tahun itu justru merasa beruntung karena bisa mengatur sendiri jalan keluar dari serial medis yang membesarkan namanya.
Dalam wawancara dengan podcast Dinnerโs on Me, Oh mengungkapkan bahwa ia mendapat kesempatan langka untuk merencanakan kepergian karakter Dr. Cristina Yang. Menurutnya, hal itu merupakan sebuah hak istimewa yang jarang dimiliki aktor lain. โSaya sangat beruntung bisa merencanakan keluar dan semua penulis mendukung itu. Itu sangat langka,โ ujarnya.
Oh memerankan Cristina Yang selama sepuluh musim, sejak 2005. Ia mengaku sempat diajak bicara oleh kreator Shonda Rhimes di akhir musim kedelapan. Rhimes bertanya apa yang ia inginkan. Oh meminta waktu untuk berpikir, lalu memutuskan bertahan satu musim lagi sebelum benar-benar pergi.
โSaya merasa sudah melakukan pekerjaan saya. Saya menciptakan karakter utuh dan menumbuhkannya selama sepuluh tahun โ pertumbuhan yang meyakinkan. Orang memang tumbuh dalam sepuluh tahun, dan saya pikir Cristina benar-benar tumbuh,โ kata Oh.
Di luar Grey's Anatomy, Oh juga menyoroti perubahan positif bagi aktor Asia-Amerika di Hollywood. Dalam wawancara dengan bintang Squid Game, Jung Ho-yeon, untuk Variety, ia menceritakan pengalaman berkendara di Sunset Boulevard. Ia melihat papan iklan besar yang menampilkan wajahnya dan model Asia lainnya โ sesuatu yang menurutnya tidak akan terjadi empat tahun lalu.
โKau melihat apa yang ditunjukkan kapitalisme Hollywood, apa yang harus kita ikuti dan beli. Dan kau ada di sana. Kau di sisi gedung โ โOh, itu dia temanku.โ Tapi kemudian ada dua papan iklan lagi dengan model Asia dan model lain, mungkin campuran,โ kata Oh. Ia menambahkan bahwa ia sudah berkendara di Sunset Boulevard berkali-kali, tetapi pemandangan seperti itu baru terlihat belakangan ini.
Pernyataan Oh mencerminkan pergeseran representasi di industri hiburan global. Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat dengan semakin banyaknya aktor dan kreator Asia Tenggara yang mendapat tempat di panggung internasional. Film seperti The Night Comes for Us dan serial The Terminal List yang dibintangi aktor Indonesia menunjukkan bahwa pintu Hollywood mulai terbuka lebar.
Namun, Oh mengingatkan bahwa perubahan itu belum merata. Ia menyebut masih ada jalan panjang untuk kesetaraan representasi. Pertanyaannya, apakah industri hiburan Tanah Air juga siap mengikuti jejak ini dengan memberikan ruang lebih bagi keberagaman?



