Pekerja Muda China Nekat Berbagi Ranjang Demi Bertahan di Tengah Lesunya Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- Fenomena berbagi tempat tidur di kalangan anak muda China merebak sebagai respons terhadap stagnasi upah dan ketidakpastian kerja.
- Viral di media sosial, praktik ini mencerminkan hilangnya rasa aman finansial dan keterikatan urban di kalangan generasi muda.
- Jika meluas, tren ini berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, permintaan properti, dan angka pernikahan di China.

Winnie Zeng, seorang agen penjualan berusia 25 tahun di Wuhan, China, mengambil langkah tak lazim untuk bertahan hidup: berbagi tempat tidur dengan orang asing. Keputusan itu memangkas biaya sewa bulanannya hingga 450 yuan (sekitar Rp900 ribu) dan memungkinkannya menyisihkan tiga perempat dari pendapatan bulanan 4.000 yuan (Rp8 juta). Langkah ekstrem ini bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan cerminan tekanan ekonomi yang menghimpit generasi muda Negeri Tirai Bambu.
Fenomena berbagi ranjang di kalangan orang dewasa yang tidak saling kenal sebelumnya mungkin terdengar ganjil. Namun, di China, praktik ini mulai menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakpastian ekonomi. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi China melambat ke titik terlemah dalam tiga tahun terakhir, dengan konsumsi yang nyaris mandek meskipun ekspor dan produksi industri menguat. Bagi kaum muda seperti Zeng, kondisi itu berarti gaji yang tak kunjung naik dan kekhawatiran kehilangan pekerjaan selalu mengintai.
Mingwei Liu, Direktur Pusat Pekerjaan Global dan Ketenagakerjaan di Universitas Rutgers, menilai tren berbagi tempat tidur merefleksikan realitas pahit. "Ini menunjukkan sebagian anak muda kehilangan rasa memiliki terhadap kota, pekerjaan tetap jangka panjang, dan prospek pendapatan yang jelas," ujarnya. Jika pola pikir ini menyebar, Liu memperingatkan, dampaknya bisa meluas hingga menekan belanja rumah tangga, permintaan properti, dan angka pernikahan โ menciptakan tantangan jangka panjang bagi perekonomian China.
Viralitas topik ini tak bisa dipandang sebelah mata. Pada akhir Juni, tagar "berbagi tempat tidur adalah kesulitan yang tak bisa saya pahami" mengumpulkan lebih dari 14 juta tayangan di Weibo, sementara konten serupa ditonton hampir 40 juta kali di Douyin. Di Xiaohongshu, platform berbagi foto ala Instagram, pencarian kata "berbagi ranjang" menghasilkan lebih dari 37.000 kiriman โ tempat Zeng mengiklankan kamarnya. Meski masih praktik terbatas di antara 260 juta penyewa China, gelombang ini memberikan gambaran jelas mengenai sikap konsumen yang semakin hati-hati dan rasa tidak aman di pasar tenaga kerja.
Bagi sebagian pelaku, berbagi tempat tidur bukan soal persahabatan, melainkan keterpaksaan finansial. Morgan Pan, 39 tahun, warga Beijing, kini hidup dengan pendapatan kurang dari separuh 30.000-40.000 yuan (Rp60-80 juta) per tahun yang dulu ia raih saat bekerja di perusahaan rintisan AI yang kini bangkrut. Ia mulai berbagi kamar tidur untuk menekan biaya sewa dan utilitas hingga sekitar 1.200 yuan per bulan. "Tak ada yang mengharukan dalam situasi saya," kata Pan, "hanya tekanan hidup." Sementara itu, Wang (hanya nama marga) yang kehilangan pekerjaan di perusahaan teknik sipil pada Desember lalu, masih mencari teman sekamar untuk membagi sewa 1.750 yuan per bulan.
Bagaimana dengan Indonesia? Fenomena berbagi tempat tidur mungkin terdengar asing, namun tekanan biaya hidup juga dirasakan anak muda di kota-kota besar. Tingginya harga sewa kos dan tuntutan hidup urban mendorong praktik berbagi kamar atau bahkan "kost sharing" sudah lazim. Meski belum hingga taraf berbagi ranjang, isyarat ekonomi yang sama muncul: upah tidak seimbang dengan biaya hidup. Pemerintah Indonesia, seperti halnya China, perlu mencermati bagaimana kerentanan ekonomi generasi muda bisa memengaruhi konsumsi dan stabilitas sosial di masa depan.
Kembali ke Wuhan, Zeng telah mengadopsi gaya hidup hemat โ memasak di rumah dan berhenti membeli pakaian mahal untuk membangun dana darurat. Ia bersikap realistis: "Gaji awal cukup rendah, biaya hidup cukup tinggi โ Anda harus sedikit berkompromi." Pertanyaan yang menggantung: apakah berbagi ranjang akan menjadi solusi permanen bagi krisis perumahan dan pengangguran, atau hanya sekadar cara bertahan hidup di tengah kelesuan ekonomi? Jawabannya akan menentukan wajah konsumsi dan pasar tenaga kerja China dalam beberapa tahun mendatang.


