Transportasi Berkelanjutan Jadi Prioritas, Indonesia-Eropa Perkuat Kemitraan dengan Dana Rp4 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Indonesia dan Uni Eropa memperkuat kemitraan transportasi berkelanjutan, dengan Jerman mengalokasikan dana 236 juta euro untuk proyek perkeretaapian Surabaya.
- Kemitraan ini mencakup bantuan teknis, transfer teknologi, dan pelatihan SDM, sejalan dengan target Indonesia mengurangi emisi karbon dan meningkatkan konektivitas.
- Proyek Surabaya Regional Railway Line tahap pertama diharapkan menjadi model bagi pengembangan transportasi massal di kota-kota lain di Indonesia.

Indonesia dan Uni Eropa sepakat memperluas kerja sama di sektor transportasi berkelanjutan, dengan Jerman mengucurkan dana 236 juta euro untuk proyek perkeretaapian di Surabaya sebagai langkah awal kemitraan jangka panjang yang bertujuan memperkuat perekonomian dan pergerakan manusia serta barang.
Kesepakatan ini mengemuka dalam forum Indonesia-Europe Roundtable on Sustainable Transport Development yang digelar bersamaan dengan RailwayTech Indonesia 2026 di Jakarta, Rabu (13/7/2026). Diselenggarakan oleh Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA) bersama Uni Eropa, Pemerintah Jerman, dan KfW Development Bank, forum ini merupakan bagian dari inisiatif Global Gateway Uni Eropa yang mendorong investasi strategis di negara berkembang.
Designated Deputy Head of Mission Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, Oliver Sperling, menekankan bahwa Indonesia, dengan luas geografi yang besar, membutuhkan sistem transportasi yang andal, aman, dan modern. "Jerman dan Indonesia telah membangun kemitraan yang erat dan saling percaya dalam pengembangan infrastruktur transportasi selama bertahun-tahun," ujar Sperling. Pemerintah Jerman, menurutnya, tidak hanya menyediakan pendanaan tetapi juga transfer teknologi dan pengetahuan.
Kepala Kerja Sama Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Jerome Pons, menambahkan bahwa Uni Eropa berkomitmen memperkuat konektivitas berkelanjutan melalui investasi strategis dan alih teknologi. Proyek SRRL yang digarap KfW Development Bank menjadi contoh nyata. "Kami menyediakan bantuan finansial, transfer teknologi, dan pelatihan sumber daya manusia agar proyek berjalan baik," kata Pons. Proyek ini dirancang untuk mendukung sistem transportasi yang tangguh terhadap perubahan iklim, sejalan dengan target Indonesia menurunkan emisi karbon.
Bagi Indonesia, kemitraan ini memiliki arti strategis. Dengan wilayah kepulauan dan pertumbuhan urbanisasi yang pesat, pengembangan transportasi massal seperti kereta api menjadi kunci mengurangi kemacetan dan polusi. Proyek SRRL di Surabaya diharapkan menjadi model bagi kota-kota lain, seperti Medan, Makassar, atau Denpasar, yang juga membutuhkan modernisasi sistem komuter. Ke depannya, kolaborasi ini bisa diperluas ke sektor transportasi laut dan udara, meski fokus saat ini tetap pada perkeretaapian.
Forum roundtable tersebut menegaskan komitmen bersama untuk membangun infrastruktur yang berkualitas tinggi dan berkelanjutan. Pertanyaannya, apakah proyek serupa akan segera menyusul di wilayah Indonesia timur? Dengan dukungan penuh Uni Eropa dan Jerman, peluang itu terbuka lebar.



