Jepang Desak Sekolah Alihkan Kelas Ber-AC Jadi Tempat Evakuasi Gempa
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pendidikan Jepang menginstruksikan penggunaan ruang kelas ber-AC sebagai tempat penampungan darurat pascagempa Kumamoto, menyusul minimnya fasilitas pendingin di gedung olahraga sekolah.
- Hanya 22,7% gymnasium dan aula bela diri di sekolah dasar dan menengah pertama nasional yang terpasang pendingin udara, sementara di Kumamoto angkanya lebih rendah yaitu 13,4%.
- Sebanyak 11 siswa mengalami luka ringan dan 72 sekolah di Kumamoto dilaporkan rusak akibat gempa; kebijakan ini menyoroti pergeseran prioritas dari fasilitas tradisional ke keselamatan manusia.

Tokyo, 29 Juli 2026 โ Kementerian Pendidikan Jepang mendesak dewan pendidikan setempat di wilayah terdampak gempa besar Kumamoto untuk menggunakan ruang kelas yang dilengkapi pendingin udara sebagai tempat evakuasi, mengingat ancaman panas dan minimnya fasilitas serupa di gedung olahraga.
Selama ini, gymnasium dan aula bela diri menjadi tempat penampungan utama saat bencana. Namun, survei fiskal 2025 mengungkap hanya 22,7 persen dari fasilitas tersebut di sekolah dasar dan menengah pertama di seluruh Jepang yang memiliki pendingin udara. Di Prefektur Kumamoto, angkanya bahkan lebih rendah, yakni 13,4 persen. Situasi ini memicu kekhawatiran serius saat suhu musim panas bisa membahayakan pengungsi, terutama lansia dan anak-anak.
Dalam surat edaran yang dikirimkan, kementerian menegaskan bahwa keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah diminta mempertimbangkan kondisi setempat dan segera mengalihfungsi ruang kelas ber-AC untuk menampung warga yang mengungsi. Langkah ini menandai pergeseran kebijakan dari protokol standar yang selama ini mengandalkan gymnasium sebagai satu-satunya opsi.
Selain soal infrastruktur, gempa berkekuatan besar yang mengguncang Kumamoto pada 28 Juli juga menimbulkan korban di lingkungan sekolah. Berdasarkan data kementerian hingga pukul 10.00 waktu setempat, 11 siswa mengalami luka ringan. Salah satunya harus mendapat jahitan di atas mata setelah atap seng runtuh saat kegiatan klub. Yang lain menderita memar karena tertimpa benda jatuh. Enam guru dan staf dilaporkan mengalami luka ringan hingga serius. Kerusakan bangunanโmulai dari pilar retak hingga peralatan ambrukโtercatat di 72 sekolah di Kumamoto dan total 106 sekolah di enam prefektur terdampak.
Bagi Indonesia, negara yang juga rawan gempa dan memiliki banyak sekolah tanpa pendingin udara, kebijakan Jepang ini menjadi pelajaran berharga. Ahli kebencanaan dari Universitas Indonesia menilai bahwa adaptasi ruang kelas untuk evakuasi harus disertai dengan standar konstruksi tahan gempa dan ketersediaan ventilasi silang. โDi daerah tropis, solusi jangka pendek bisa menggunakan kipas angin, tetapi jangka panjang diperlukan investasi infrastruktur yang memadai,โ ujarnya. Pemerintah daerah di Indonesia bisa mulai memetakan sekolah-sekolah yang memenuhi syarat sebagai tempat evakuasi sementara, terutama di zona merah gempa seperti Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Sulawesi.
Ke depan, keputusan Jepang ini berpotensi mengubah standar penanggulangan bencana global. Akankah negara-negara lain, termasuk Indonesia, mengikuti jejak Tokyo dengan memprioritaskan ruang ber-AC sebagai tempat evakuasi? Atau justru akan tetap bertahan pada pola konvensional? Evaluasi menyeluruh terhadap dampak kebijakan ini terhadap angka keselamatan pengungsi akan menjadi kunci perubahannya.


