Greta Lee: Film Independen Adalah Nyawa Industri, Bukan Sekadar Selera Alternatif
Baca dalam 60 detik
- Greta Lee menilai film independen krusial bagi keberagaman industri, bukan sekadar pelengkap deretan produksi besar.
- Aktris 43 tahun itu khawatir masa depan bioskop terancam jika ruang untuk film skala kecil semakin menyempit.
- Lewat proyek terbarunya, 'Late Fame', Lee berharap penonton kembali menemukan pengalaman sinematik yang personal dan autentik.

Greta Lee, aktris yang namanya melejit lewat sederet film laris seperti Toy Story 5 dan Spider-Man: Across the Spider-Verse, justru memberi pujian tulus pada film-film independen. Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, ia menyebut film beranggaran rendah sebagai “elemen esensial” yang tak boleh lenyap dari industri perfilman.
Lee, yang kini tengah mempromosikan Late Fame—film independen garapan sutradara Kent Jones—menyampaikan kekhawatirannya tentang kondisi bioskop saat ini. “Kita berada di titik yang sangat rumit. Saya akan sangat terpukul jika suatu hari tidak ada lagi film seperti ini yang bisa dinikmati di bioskop,” katanya. Baginya, film independen bukan hanya soal anggaran, melainkan tentang keragaman cerita dan cara penonton terhubung dengan karya.
Aktris berusia 43 tahun itu mengingat masa-masa awal kariernya di New York, saat ia harus berjuang mengikuti audisi musikal dengan modal nekat. “Saya dulu harus menyiapkan 16 bar lagu terbaik dari teater musikal kontemporer, dan itu benar-benar menguji mental,” kenang Lee. Pengalaman itu membuatnya merasa dekat dengan karakter Gloria di Late Fame, seorang perempuan yang juga hidup dalam keterbatasan. “Kadang parameter dan batasan justru menjadi bagian dari solusi,” tambahnya.
Kekhawatiran Lee bukan tanpa alasan. Tren streaming dan dominasi waralaba studio besar membuat film independen semakin terpinggirkan. Di Indonesia, situasi serupa juga dialami para sineas lokal. Produksi film independen kerap kesulitan mendapatkan layar bioskop, sementara penonton lebih akrab dengan film-film komersial. Namun, keberadaan festival film independen seperti FFI atau JAFF masih menjadi secercah harapan bagi para pembuat film untuk tetap berkarya.
Menurut Lee, melihat trilogi Before di bioskop sendirian adalah pengalaman yang membentuk dirinya sebagai pribadi, bukan sekadar aktor. “Memikirkan bahwa itu mungkin tidak lagi bisa dinikmati orang adalah hal yang menakutkan,” ujarnya. Dengan Late Fame, ia berharap ada satu lagi kesempatan bagi penonton untuk merasakan seni bercerita di layar lebar.
Pertanyaannya, mampukah film-film independen seperti Late Fame terus diproduksi dan ditonton di tengah gempuran algoritma dan tuntutan komersial? Atau justru penonton yang akan menentukan arah industri dengan pilihan mereka? Greta Lee setidaknya sudah memberikan sinyal: perjuangan untuk film independen masih panjang.



