Azizulhasni Akhirnya Raih Emas Commonwealth Games: Penantian 16 Tahun Berakhir Manis
Baca dalam 60 detik
- Setelah 16 tahun menanti, pebalap Malaysia Azizulhasni Awang akhirnya merebut emas keirin di Commonwealth Games Glasgow, mengalahkan juara bertahan Nicholas Paul.
- Kemenangan ini menandai emas kedua Malaysia di ajang tersebut dan menjadi yang ketujuh bagi kontingen negara itu, sekaligus menegaskan dominasi Asia Tenggara di nomor sprint.
- Keberhasilan Azizul di usia 38 tahun menjadi bukti bahwa konsistensi dan pengalaman tetap relevan di tengah munculnya generasi baru pebalap dunia.

Penantian panjang Azizulhasni Awang akhirnya berbuah manis. Pada Jumat (31/7) malam WIB, pebalap berusia 38 tahun itu merebut medali emas nomor keirin di Commonwealth Games Glasgow yang berlangsung di Sir Chris Hoy Velodrome. Kemenangan ini bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan juga jawaban atas 16 tahun perjuangannya di pentas internasional.
Pada final yang berlangsung sengit, Azizul tampil sempurna dengan melesat di lap terakhir, meninggalkan lawan-lawannya yang tak kalah tangguh. Ia berhasil mengalahkan Nicholas Paul dari Trinidad dan Tobago, sang juara bertahan sekaligus mantan pemegang rekor dunia. Leigh Hoffman dari Australia harus puas dengan perak, sementara Harry Ledingham-Horn dari Inggris membawa pulang perunggu. Paul sendiri harus rela finis di posisi keempat.
Bagi Malaysia, emas ini memiliki makna ganda. Selain menjadi yang kedua bagi Malaysia di Commonwealth Games, ini juga menjadi medali emas ketujuh bagi kontingen negara tersebut di Glasgow. Namun, di balik euforia tersebut, ada kisah panjang yang tak pernah lekang oleh waktu. Pada debutnya di New Delhi 2010, Azizul sebenarnya finis pertama, tetapi kemudian didiskualifikasi karena pelanggaran. Rekan setimnya, Josiah Ng, yang finis kedua saat itu, akhirnya dinaikkan ke posisi pertama.
Perjalanan Azizul menuju final kali ini juga tidak mudah. Ia harus melewati heat pertama dengan finis kedua di belakang Ryan Tayte dari Australia. Sementara itu, rekan senegaranya, Mohd Shah Firdaus Sahrom, gagal menemani Azizul di final setelah finis keempat di heat kedua. Namun, Shah Firdaus bangkit dengan memenangi final konsolasi dan menempati peringkat ketujuh secara keseluruhan.
Kemenangan ini juga menjadi sorotan bagi kawasan Asia Tenggara. Di tengah dominasi pebalap Eropa dan Australia, Azizul membuktikan bahwa pebalap Asia mampu bersaing di level tertinggi. Keberhasilannya di usia yang tidak muda lagi menjadi inspirasi bagi atlet muda, khususnya di Indonesia yang tengah mengembangkan program balap sepeda. Prestasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa investasi jangka panjang pada pembinaan atlet, seperti yang dilakukan Malaysia, dapat menghasilkan buah manis di panggung dunia.
Di sisi lain, kegagalan Nurul Izzah Izzati Mohd Asri di nomor sprint putri menjadi catatan tersendiri. Ia kalah di semifinal dari Sophie Capewell dari Inggris, kemudian tumbang di perebutan medali perunggu melawan Rhian Edwards dari Wales. Meski demikian, penampilannya tetap layak diapresiasi karena mampu bersaing hingga babak akhir.
โKemenangan ini adalah hasil kerja keras dan pengorbanan selama bertahun-tahun. Saya sangat emosional,โ ujar Azizul, yang kini tercatat sebagai salah satu pebalap tertua yang meraih emas di ajang ini.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Azizul akan tetap berlaga hingga Olimpiade Los Angeles 2028? Dengan usia yang terus bertambah, regenerasi pebalap Malaysia menjadi keniscayaan. Namun, jika melihat determinasi dan performanya yang masih konsisten, bukan tidak mungkin ia akan kembali menjadi andalan. Bagi Indonesia, prestasi ini tentu menjadi bahan evaluasi untuk lebih serius menggarap cabang olahraga sepeda, baik dari sisi pembinaan maupun kompetisi internasional.



