Olivia Rodrigo: Menulis Lagu Adalah Ruang untuk Mengekspresikan ‘Keanehan’ Pikiran
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Vampire' mengaku proses kreatifnya dimulai dari keinginan menuangkan sisi unik pikirannya ke dalam lagu.
- Lagu 'Honeybee' disebut sebagai pengalaman menulis paling berkesan karena lahir dalam waktu singkat dan mampu merekam emosi secara autentik.
- Meski telah meraih sukses besar, Rodrigo masih mencari jati diri sebagai artis dan mengaku tidak mahir mengejar tren pasar.

Olivia Rodrigo, penyanyi dan penulis lagu berusia 23 tahun, mengaku bahwa menulis lagu baginya adalah medium untuk meluapkan segala ‘keanehan’ yang berputar di kepalanya. Dalam sesi tanya jawab dengan penggemar, pelantun hits Vampire itu menjelaskan bahwa cara pandangnya terhadap dunia sangat dipengaruhi oleh posisinya sebagai seorang kreator.
“Saya sangat senang bisa mengekspresikan keanehan yang ada di otak saya, dan itu jelas memengaruhi cara saya melihat dunia,” ujar Rodrigo. Ia menambahkan bahwa begitu seseorang mulai menulis atau mencipta, ia akan cenderung melihat segala sesuatu melalui ‘lensa seorang kreator’. Bagi Rodrigo, kesadaran ini adalah anugerah yang selalu ia syukuri.
Dalam album terbarunya, You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love yang dirilis pada Juni lalu, Rodrigo menyebut lagu Honeybee sebagai pengalaman menulis yang paling berkesan. Lagu yang mengisahkan hubungannya dengan mantan kekasih, aktor Louis Partridge, itu tercipta dalam waktu yang sangat singkat. “Menulis Honeybee terasa sangat menyenangkan dan terjadi dalam waktu singkat. Selalu seru ketika sebuah lagu mengalir begitu saja,” katanya.
Yang membuat momen itu spesial, menurut Rodrigo, adalah ketika ia mendengarkan hasil rekamannya. “Saya ingat setelah mendengarkannya, air mata saya mengalir karena lagu itu begitu sempurna menangkap apa yang saya rasakan saat itu,” ungkapnya. Pengalaman semacam inilah yang membuatnya terus percaya pada kekuatan autentisitas dalam bermusik.
Kendati sudah menikmati puncak popularitas, Rodrigo mengakui bahwa dirinya masih berusaha menentukan ‘tipe artis seperti apa’ yang ia inginkan. Dalam wawancara dengan Pitchfork, ia menyatakan bahwa proses pendewasaan diri, baik secara personal maupun profesional, membantunya melihat lebih jelas. “Saya harus berdamai dengan pertanyaan tentang tipe artis seperti apa yang ingin saya menjadi. Seiring bertambah usia dan otak saya makin berkembang, semuanya mulai sedikit lebih jelas,” tuturnya.
Namun, Rodrigo juga jujur tentang keterbatasannya. Ia mengaku kerap iri pada artis yang mampu hadir di tengah zeitgeist dan menciptakan produk yang mudah dikonsumsi publik. “Ada seni tersendiri dalam hal itu, dan saya menghargainya, tapi saya rasa saya tidak pernah benar-benar mahir melakukannya,” kata Rodrigo. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ia lebih memilih jalur personal dan introspektif ketimbang mengejar popularitas instan.
“Ada kalanya saya sangat iri pada kemampuan untuk hadir di pusaran zaman dan membuat hal yang diinginkan orang, yang begitu mudah dikonsumsi. Itu adalah seni tersendiri, tapi saya rasa saya tidak pernah benar-benar pandai melakukannya.” — Olivia Rodrigo kepada Pitchfork
Pendekatan semacam ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar di Indonesia dan Asia Tenggara, di mana lirik-lirik jujur dan emosional seperti dalam Drivers License atau Vampire mendapatkan sambutan hangat. Di tengah industri musik yang kerap mendorong artis untuk mengikuti tren, Rodrigo memilih untuk setia pada suara hatinya—sebuah pilihan yang langka dan patut dihargai.
Ke depan, publik akan menanti apakah Rodrigo akan terus konsisten dengan pendekatan introspektifnya, atau suatu saat ia akan mencoba menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar. Yang jelas, baginya, proses kreatif adalah ruang untuk terus belajar tentang dirinya sendiri, dan itu sudah menjadi hadiah terbesar.



