Dari Kecelakaan ke Emas: Faye Rogers Buktikan Atlet Disabilitas Mampu Bersaing di Arena Umum
Baca dalam 60 detik
- Faye Rogers, peraih emas Paralimpiade Paris 2024, akan turun di nomor 200 meter gaya kupu-kupu kategori umum di Commonwealth Games, lima tahun setelah mengalami kecelakaan yang nyaris mengakhiri kariernya.
- Perenang Skotlandia berusia 23 tahun itu mengalami patah tulang terbuka dan saraf putus, namun kembali ke kolam hanya 12 pekan setelah insiden dan kini justru memiliki catatan waktu lebih cepat dibanding sebelum cedera.
- Partisipasi Rogers menjadi simbol perlawanan terhadap stigma bahwa atlet disabilitas tidak mampu berkompetisi setara, sekaligus mendorong wacana inklusi di dunia olahraga profesional.

Hanya beberapa hari setelah menyabet medali emas di nomor S10 200 meter ganti perorangan Commonwealth Games, perenang Paralimpiade Skotlandia Faye Rogers kembali bersiap menghadapi tantangan yang sama sekali berbeda: turun di kelas non-disabilitas pada nomor 200 meter gaya kupu-kupu, Rabu (31/7/2025) waktu setempat.
Keputusan itu bukan sekadar uji nyali. Rogers adalah penyintas kecelakaan mobil parah pada 2019 yang meremukkan lengan kanannya hingga mengalami patah tulang terbuka kompleks, beberapa dislokasi, dan putusnya saraf ulnaris. Dokter kala itu menyatakan ia tak akan bisa berenang kompetitif lagi. Namun 12 pekan kemudian, ia sudah kembali berlatih di kolam. Pada musim panas 2024, ia bahkan merebut emas Paralimpiade di Paris.
Yang membuat kisah Rogers luar biasa: ia justru lebih cepat sekarang dibanding sebelum kecelakaan. "Saya tidak pernah membayangkan bisa lebih cepat," ujarnya kepada BBC Sport. "Ada keterbatasan, tetapi saya bekerja lebih keras, lebih bugar, lebih kuat. Pesan saya: jangan biarkan siapa pun memberitahu Anda apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan."
Langkah Rogers mengikuti jejak langkah atlet Paralimpiade yang berani bertanding di kategori umum. Pada 2024, ia memutuskan menguji kemampuannya di 200 meter gaya kupu-kupu—nomor yang dulu ia kuasai sebelum cedera. Hasilnya, catatan waktunya hanya sedikit di bawah rekor pribadi pra-kecelakaan. Ia pun menghubungi para selektor, dan dengan syarat tiga perenang lain tidak mencatat waktu lebih cepat, ia resmi masuk skuad Skotlandia.
Bagi Indonesia, kisah Rogers relevan di tengah upaya meningkatkan inklusivitas olahraga bagi penyandang disabilitas. meski prestasi atlet Paralimpiade Tanah Air mulai menonjol—seperti peraih medali di ASEAN Para Games atau Asian Para Games—masih jarang mereka diberi kesempatan bersaing di nomor umum. Rogers menunjukkan bahwa batas antara disabilitas dan non-disabilitas bisa lebih cair jika ada kemauan dari semua pihak.
Mahasiswa Universitas Edinburgh itu sadar betul arti penampilannya. "Tidak ada tekanan. Saya anggap ini hak istimewa untuk berdiri di sana dan membuktikan kepada orang lain dengan keterbatasan bahwa, apa pun yang dikatakan orang, selalu ada jalan," pungkasnya. Apakah keberanian Rogers akan menginspirasi federasi renang di negara lain untuk membuka lebih banyak peluang serupa? Waktu yang akan menjawab, tetapi sapuan tangannya di kolam telah menulis babak baru dalam narasi olahraga inklusif.



