Pasar Saham Tokyo Mixed: Aksi Borong Lawan Kekhawatiran AI dan Gempa Kumamoto
Baca dalam 60 detik
- Nikkei turun 1,08% meski ada aksi borong, dipicu kekhawatiran investasi AI dan dampak gempa.
- Saham semikonduktor dan Tokyo Electron tertekan, sementara dolar bergerak di kisaran 163 yen.
- Hasil pertemuan Fed dan BOJ pekan ini jadi penentu arah selanjutnya bagi bursa Jepang dan regional.

Bursa saham Tokyo bergerak mixed pada sesi perdagangan Rabu (29/7) di saat aksi borong menyusul anjloknya indeks sehari sebelumnya tidak cukup kuat menahan tekanan dari kekhawatiran global terhadap prospek investasi kecerdasan buatan (AI) dan dampak gempa bumi di Kumamoto.
Indeks Nikkei 225 tercatat turun 675,06 poin atau 1,08 persen ke level 61.689,86, sementara indeks Topix yang lebih luas justru naik tipis 5,04 poin atau 0,13 persen menjadi 3.968,63. Pergerakan ini mencerminkan sentimen yang terbelah di kalangan investor, dengan saham-saham berkapitalisasi besar tertekan namun saham domestik tertentu masih diburu.
Di pasar valuta asing, dolar AS diperdagangkan sempit di kisaran atas 163 yen, mencerminkan sikap wait-and-see menjelang hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve AS dan Bank of Japan (BOJ) pekan ini. Pada siang hari, dolar berada di level 163,72-73 yen, tidak jauh dari posisi penutupan sebelumnya. Euro juga relatif stabil di kisaran 1,1394 dolar dan 186,54 yen.
Pada awal perdagangan, Nikkei sempat melesat setelah hari sebelumnya ambles hampir 4 persen, namun momentum itu cepat pudar. Saham-saham terkait semikonduktor menjadi biang kerok setelah indeks Kospi Korea Selatan yang padat teknologi berbalik arah meskipun laporan keuangan SK Hynix solid. Kekhawatiran bahwa lonjakan investasi AI belum sebanding dengan imbal hasil yang diharapkan kembali menghantui pelaku pasar global.
Tekanan tambahan datang dari gempa bumi berkekuatan 7,1 SR yang mengguncang Prefektur Kumamoto pada Selasa malam. Saham perusahaan yang memiliki fasilitas di wilayah tersebut terpukul. Tokyo Electron, produsen peralatan semikonduktor raksasa, menghentikan operasi dua pabriknya di Kumamoto untuk inspeksi pascagempa dan sahamnya anjlok 9,9 persen ke 50.360 yen.
Bagi Indonesia, dinamika bursa Tokyo memiliki relevansi tersendiri. Pelemahan Nikkei dan depresiasi yen dapat mempengaruhi daya saing ekspor RI ke Jepang, terutama komoditas seperti batu bara dan nikel. Selain itu, kekhawatiran terhadap sektor AI berpotensi memicu aksi jual saham teknologi di bursa domestik jika sentimen negatif berlanjut. Investor Indonesia yang memiliki portofolio di Jepang juga perlu mencermati volatilitas ini.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada hasil rapat The Fed dan BOJ yang dijadwalkan selesai pekan ini. Suku bunga dan sinyal kebijakan moneter akan menentukan pergerakan yen dan arus modal asing. Selain itu, dampak gempa Kumamoto terhadap rantai pasok semikonduktor juga perlu dipantau karena dapat memperkuat volatilitas saham teknologi global.



