Gempa M7,1 Jepang Picu Kekhawatiran: Sesar 'Tidur' 10 Tahun Bangkit, Rantai Bencana Belum Usai
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan M7,1 di Kumamoto dipicu oleh sesar yang tidak bergerak sejak gempa kembar 2016, menurut analisis seismolog.
- Aktivitas seismik di Zona Sesar Hinagu meningkat dua kali lipat dalam satu dekade, menandakan akumulasi tekanan yang kini terlepas.
- BMKG memastikan gempa tidak berdampak tsunami ke Indonesia, tetapi peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko gempa susulan di kawasan Cincin Api.

Gempa bumi magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, Selasa (12/3) lalu, diduga dipicu oleh pelepasan tekanan dari sesar aktif yang ‘tertidur’ selama satu dekade setelah gempa kembar dahsyat pada 2016. Para ahli kini memperingatkan bahwa potensi gempa susulan kuat masih mengintai, mengingat mekanisme pemicu yang serupa dengan bencana sembilan tahun silam.
Pusat gempa terbaru berada tidak jauh dari lokasi gempa darat M6,5 pada 14 April 2016 dan M7,3 yang menyusul dua hari kemudian. Ketiga gempa tersebut sama-sama mencatatkan intensitas seismik level 7—skala tertinggi di Jepang—di sejumlah wilayah prefektur. Gempa 2016 sendiri telah merenggut lebih dari 270 jiwa dan menghancurkan ribuan bangunan di kawasan Kyushu.
Shinji Toda, profesor seismologi dari Universitas Tohoku, mengungkapkan bahwa jumlah gempa berkekuatan magnitudo 1,5 atau lebih di sekitar Zona Sesar Hinagu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sebelum 2016. Temuan ini diperoleh dari analisis aktivitas seismik selama satu dekade terakhir. Menurut Toda, gempa 2016 diyakini telah memicu tegangan besar yang akhirnya menyebabkan pergerakan di sepanjang sesar Hinagu pada Selasa lalu. “Kedua peristiwa memiliki mekanisme pemicu yang sama,” jelasnya.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Jepang, gempa Selasa terjadi pada kedalaman 16 kilometer di sepanjang sesar geser (strike-slip fault)—kondisi di mana dua lempeng berdekatan bergeser secara horizontal. Karakteristik ini identik dengan gempa 2016. Meski demikian, badan tersebut belum secara eksplisit menghubungkan gempa terbaru dengan rangkaian gempa besar satu dekade lalu.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan ancaman seismik di kawasan Cincin Api. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada potensi tsunami yang mencapai wilayah Indonesia akibat gempa Kumamoto. Namun, aktivitas subduksi di Indonesia—seperti di zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai—memiliki kemiripan mekanisme dengan sesar Hinagu. “Gempa Jepang menunjukkan bahwa sesar yang diam bisa tiba-tiba aktif jika tekanan terakumulasi,” ujar seorang seismolog dari BMKG yang enggan disebutkan namanya.
Menurut analisis Shinji Toda, bagian selatan Zona Sesar Hinagu yang membentang hingga Laut Yatsushiro hampir tidak mengalami pergeseran pascagempa 2016. Akumulasi tekanan inilah yang diduga menjadi sumber energi gempa terbaru. Toda memperingatkan bahwa gempa susulan dengan magnitudi signifikan masih mungkin terjadi dalam beberapa pekan ke depan, mengingat pola serupa terjadi setelah gempa 2016.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah gempa M7,1 ini merupakan prekursor dari gempa yang lebih besar atau puncak dari siklus pelepasan tekanan yang sudah berlangsung lama. Indonesia, yang memiliki banyak sesar aktif dan sejarah gempa dahsyat, perlu menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi kesiapsiagaan bencana.



