Harga Minyak Anjlok 5% ke Terendah Dua Pekan: Harapan Reda Konflik AS-Iran
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI merosot lebih dari 5% pada Selasa ke posisi terendah sejak 13 Juli, dipicu optimisme penyelesaian sengketa Selat Hormuz.
- Oman menyodorkan proposal pengelolaan Selat Hormuz yang didukung negara Teluk, termasuk pungutan sukarela, namun Iran belum memberi jawaban.
- Penurunan harga berpotensi meringankan beban subsidi energi Indonesia, tetapi risiko gangguan pasokan masih tinggi jika perundingan macet.

Harga minyak mentah dunia jatuh lebih dari 5% pada Selasa (27/7) ke level terendah dalam dua pekan, setelah muncul sinyal meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Brent ditutup di posisi 83,75 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) terperosok ke 78,55 dolar AS. Dalam tiga hari terakhir, kedua acuan itu telah kehilangan sekitar 17% nilainya.
Penurunan ini dipicu oleh kabar bahwa Oman menyampaikan rencana pengelolaan Selat Hormuz yang mendapat dukungan dari negara-negara Teluk. Proposal itu mencakup mekanisme pungutan sukarela bagi kapal yang melintas—sebuah langkah yang diyakini dapat meredam gangguan perdagangan minyak akibat perang AS-Israel dengan Iran. Namun, sumber senior Iran mengaku Teheran belum memberikan tanggapan resmi atas usulan tersebut. Sebelum konflik pecah pada 28 Februari, sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi selat strategis itu setiap hari.
Presiden AS Donald Trump, yang akhir pekan lalu secara mendadak menghentikan kampanye pengeboman dua minggu, mengklaim telah terjadi pembicaraan yang produktif dengan Iran. Meski demikian, ia tetap mengancam akan melanjutkan serangan jika negosiasi tidak membuahkan hasil. Iran sendiri membantah adanya pembicaraan dengan Amerika Serikat. Sementara itu, Arab Saudi melalui Aramco terpaksa menutup kilang minyak Jizan berkapasitas 400.000 barel per hari pada 27 Juli setelah serangan militan Houthi yang didukung Iran. Insiden ini turut mengurangi permintaan minyak mentah dan memperketat pasokan di kawasan.
Konflik Houthi juga mengganggu jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, menciptakan titik rawan kedua bagi aliran minyak. Aramco disebut tengah mempertimbangkan mekanisme harga baru untuk minyak yang dimuat dari pelabuhan Sidi Kerir di Mesir guna menutupi kenaikan biaya pengiriman melalui pipa Suez Mediterania. Data Kpler menunjukkan lalu lintas di Bab el-Mandeb mulai pulih—28 kapal melintas pada Senin—sementara pergerakan di Selat Hormuz masih rendah.
Faktor lain yang menekan harga adalah menguatnya dolar AS yang mendekati level tertinggi empat pekan, seiring spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin menaikkan suku bunga pekan ini. Dolar yang kuat membuat minyak lebih mahal bagi pembeli global, serta potensi kenaikan suku bunga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan permintaan energi. Selain itu, pembicaraan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Trump mengenai kemungkinan penyelesaian damai dengan Rusia juga menambah sentimen bearish. Jika sanksi terhadap Rusia dicabut, Moskow bisa kembali membanjiri pasar—mengingat Rusia adalah produsen minyak mentah terbesar ketiga dunia pada 2025.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak mentah ini membawa angin segar bagi anggaran subsidi energi. Pemerintah selama ini terbebani oleh harga minyak tinggi yang memicu kenaikan alokasi subsidi BBM dan LPG. Namun, ketidakpastian di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb tetap menjadi ancaman serius karena Indonesia mengimpor sekitar 40% kebutuhan minyak dari kawasan Timur Tengah. Jika perundingan buntu dan konflik kembali memanas, lonjakan harga bisa terjadi sewaktu-waktu, memukul kembali APBN dan daya beli masyarakat.
Minggu ini pasar menanti laporan stok minyak mentah AS dari American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Administration (EIA). Analis memperkirakan penarikan stok sebesar 1,4 juta barel—yang akan menjadi penurunan kedua dalam tiga pekan. Pertanyaan besarnya adalah apakah momentum negosiasi Oman mampu bertahan atau berujung pada kebuntuan yang memicu kejutan baru di pasar energi global.



