Mesin Jahit di Nusakambangan: Narapidana Raup Keterampilan dan Harapan Baru
Baca dalam 60 detik
- Balai Latihan Kerja Konveksi di Lapas Nirbaya Nusakambangan memberdayakan 100 warga binaan dengan keterampilan menjahit industri.
- Program ini menghasilkan 100โ200 potong pakaian per hari untuk kebutuhan lembaga pemasyarakatan se-Jawa Tengah, plus premi bagi peserta.
- Kepala KSP dan Menteri Imipas menilai model ini potensial dicanangkan di lapas lain untuk menekan angka residivisme.

Lebih dari sekadar suara mesin jahit, Balai Latihan Kerja (BLK) Konveksi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nirbaya, Pulau Nusakambangan, Cilacap, menjadi ruang transformasi bagi seratusan warga binaan yang tengah menjalani masa pidana. Di tempat ini, mereka tidak hanya belajar menjahit, tetapi juga membangun keterampilan dan kepercayaan diri untuk memulai hidup baru.
Pulau yang selama ini identik dengan penjara keamanan tinggi itu kini menyuguhkan pemandangan berbeda. Sebuah bangunan bekas gudang disulap menjadi lantai produksi konveksi dengan puluhan mesin jahit dan mesin obras. Setiap hari, para narapidana duduk berjajar, berkonsentrasi menyelesaikan potongan kain hingga menjadi pakaian jadi. Suasana kerja disiplin dan saling mengawasi kualitas, persis seperti pabrik garmen pada umumnya.
Program yang dirintis sejak Oktober 2025 ini tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan tanggung jawab dan kerja tim. Setiap kelompok mampu memproduksi 100 hingga 200 potong pakaian per hari, yang kemudian didistribusikan ke lapas dan rumah tahanan di berbagai wilayah Jawa Tengah. Sebagai apresiasi, peserta menerima premi yang bisa ditabung untuk bekal setelah bebas.
Eko Cahyono, warga binaan asal Purwodadi, mengaku nyaman mengikuti pelatihan ini. โDaripada di kamar bengong, lebih baik ada kegiatan dan mendapat bekal keterampilan,โ katanya. Hal serupa disampaikan Naryanto dari Semarang, yang sebelumnya tidak pernah menyentuh mesin jahit, kini mampu memproduksi pakaian dan berencana bekerja sebagai penjahit setelah bebas. Muhammad Ridwan bahkan naik jabatan menjadi instruktur setelah mengikuti program sejak awal. โAwalnya tidak bisa apa-apa, sekarang dipercaya mengajari teman-teman baru,โ ujarnya.
Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto mengunjungi BLK pada 28 Januari 2026. Dudung menilai program ini luar biasa karena memberi bekal bagi warga binaan sehingga ketika bebas nanti mempunyai harapan untuk berbuat lebih baik. Menurutnya, model pembinaan seperti ini perlu dikembangkan di lapas lain karena tidak hanya berorientasi pada hukuman, tetapi juga reintegrasi sosial.
Bagi Indonesia, program ini menjadi contoh konkret bagaimana sistem pemasyarakatan dapat berperan dalam mengurangi angka residivisme. Dengan keterampilan menjahit yang terstandar, para mantan narapidana memiliki peluang kerja di industri garmen yang terus tumbuh. Pertanyaannya, apakah pemerintah akan mereplikasi model ini di lapas-lapas lain di tanah air? Jika ya, bukan hanya Nusakambangan yang akan berubah wajah, tetapi juga masa depan ribuan warga binaan di seluruh Indonesia.



