Inggris Andalkan Hull dan Woad untuk Akhiri Penantian Gelar Major di Lytham
Baca dalam 60 detik
- Charley Hull, dengan lima kali runner-up major, dan Lottie Woad, pebalap muda peringkat lima dunia, menjadi andalan tuan rumah di AIG Women's Open di Royal Lytham.
- Hull mengatasi tekanan mental dan cedera, sementara Woad yang baru setahun profesional menunjukkan konsistensi di lapangan links.
- Kemenangan salah satu dari mereka akan melanjutkan tradisi sukses pebalap Inggris di Lytham setelah Catriona Matthew (2009) dan Georgia Hall (2018).

Charley Hull dan Lottie Woad menjadi sorotan utama saat AIG Women's Open, major terakhir tahun ini, bergulir di Royal Lytham & St Annes. Pebalap Inggris itu membawa harapan besar untuk mengakhiri paceklik gelar major tuan rumah yang terakhir kali diraih Georgia Hall pada 2018.
Hull, yang pernah menjadi runner-up lima kali di major, memulai pekan ini dengan lelucon ringan. Ia mengelabui caddie-nya, Adam Woodward, dengan tiket lotre palsu senilai £100.000 yang dibeli dari toko lelucon. "Dia hampir berhenti kerja," kata Hull sambil tersenyum. Namun, di balik kelakar itu, tekad Hull untuk merebut gelar major pertamanya sangat serius.
Lapangan Royal Lytham terkenal dengan banyaknya bunker dan angin kencang, menjadi ujian berat bagi para peserta. Hull mengaku frustrasi dengan catatan major-nya, tetapi tetap optimistis. "Saya manusia biasa, terkadang tekanan dari luar terasa berat," ujarnya. Pada US Open Juni lalu, ia kalah tipis dari Nelly Korda, yang memuncaki peringkat dunia.
Sementara itu, Lottie Woad yang baru berusia 22 tahun justru tampil tanpa beban. Pebalap nomor satu Inggris ini sudah mengoleksi dua kemenangan profesional, termasuk di LPGA Kroger Queen City Championship. Pengalamannya memenangkan Scottish Open tahun lalu menjadi modal berharga menghadapi kondisi links yang keras. "Saya belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri," kata Woad, yang pernah memimpin di Evian Championship sebelum akhirnya dikalahkan Haeran Ryu.
Konteks Indonesia: Meski tidak ada pebalap Indonesia yang berlaga, AIG Women's Open tetap menarik perhatian penggemar golf Tanah Air. Turnamen ini menjadi ajang pembuktian para pebalap top dunia, sekaligus inspirasi bagi pebalap muda Indonesia yang bercita-cita menembus level elite. Gelar major selalu menyajikan drama dan strategi tinggi yang layak disimak.
Dengan rekor positif pebalap Inggris di Lytham—Catriona Matthew (2009) dan Georgia Hall (2018) pernah juara—Hull dan Woad memiliki panggung untuk menorehkan sejarah baru. Namun, persaingan ketat dari pemain seperti Nelly Korda dan Haeran Ryu siap menghadang. Mampukah salah satu dari mereka mengangkat trofi dan menulis ulang buku rekor?



