Longsor Salju di Broad Peak Tewaskan Empat Pendaki, Nirmal Purja Masih Hilang
Baca dalam 60 detik
- Tim penyelamat darat menemukan empat jenazah setelah longsoran salju menerjang rombongan pendaki di Broad Peak, Pakistan, Kamis (31/7).
- Nama-nama korban belum teridentifikasi, sementara Nirmal Purja dan sembilan pendaki lain dari berbagai negara masih belum ditemukan.
- Operasi pencarian terkendala cuaca, dengan helikopter siaga untuk dikerahkan segera setelah kondisi memungkinkan.

Tim penyelamat darat berhasil menemukan empat jenazah setelah longsoran salju besar melanda Broad Peak, gunung setinggi 8.047 meter di pegunungan Karakoram, Pakistan, pada Kamis (31/7). Peristiwa ini menimpa rombongan pendaki internasional yang tengah berupaya mencapai puncak, dan hingga kini identitas keempat korban belum dapat dipastikan.
Menurut keterangan resmi Alpine Club of Pakistan, longsoran terjadi sekitar tengah hari waktu setempat. Rombongan yang terjebak longsor melibatkan sejumlah nama besar dunia pendakian, termasuk Nirmal Purja, mantan Royal Marine asal Nepal yang dikenal lewat misi pendakian 14 puncak tertinggi dunia dalam waktu singkat. Selain Purja, enam pendaki Nepal lain, satu pendaki Pakistan, satu pendaki China, satu warga Amerika Serikat, dan satu pendaki asal Oman juga dilaporkan hilang.
Presiden Alpine Club of Pakistan, Mayor Jenderal Irfan Arshad Khan, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan otoritas pemerintah dan instansi terkait untuk memobilisasi operasi pencarian dan penyelamatan. Dalam pernyataan resminya, klub menegaskan bahwa segala upaya sedang dilakukan untuk mengerahkan dukungan helikopter dan sumber daya penyelamatan lainnya, meski harus menyesuaikan dengan kondisi cuaca dan operasional di lapangan.
Peristiwa ini kembali menyoroti tingginya risiko pendakian di pegunungan Karakoram, yang dikenal memiliki medan ekstrem dan cuaca tak menentu. Broad Peak, yang merupakan puncak tertinggi ke-12 di dunia, kerap menjadi incaran pendaki profesional karena tantangannya yang berat. Namun, longsoran salju di kawasan ini bukanlah hal baru; beberapa insiden serupa pernah tercatat dalam beberapa tahun terakhir, menewaskan sejumlah pendaki dari berbagai negara.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dalam kegiatan pendakian gunung, terutama di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga petualangan. Meski pendaki Indonesia jarang menembus pegunungan setinggi Broad Peak, tren pendakian gunung tinggi di dalam negeri terus berkembang, dan kecelakaan serupa bisa saja terjadi di medan yang lebih rendah namun tetap berisiko. Para penggiat alam bebas di Tanah Air diharapkan selalu memprioritaskan keselamatan dan mematuhi protokol pendakian yang ketat.
Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat masih berupaya menjangkau lokasi longsor. Kondisi cuaca yang buruk menjadi kendala utama, sehingga pengerahan helikopter belum dapat dilakukan maksimal. Keluarga dan rekan sesama pendaki di berbagai negara menanti kabar terbaru dengan cemas, sementara komunitas pendakian internasional bersatu dalam doa dan dukungan.
Pertanyaan besar kini menggantung: mampukah tim penyelamat menemukan korban selamat di tengah tumpukan salju dan es yang tidak stabil? Pengalaman operasi serupa di masa lalu menunjukkan bahwa peluang bertahan hidup menurun drastis setelah 48 jam pertama. Namun, sejarah juga mencatat keajaiban-keajaiban kecil di pegunungan tinggi, dan harapan masih tersisa selama proses pencarian belum dihentikan.



