Sargassum di Atlantik Kian Menggila, Riset Ungkap Siklus Mandiri yang Sulit Dihentikan
Baca dalam 60 detik
- Ledakan rumput laut sargassum di Great Atlantic Sargassum Belt mencapai rekor 37,5 juta ton pada 2025, diprediksi terus meningkat.
- Penelitian terbaru menunjukkan sargassum membentuk ekosistem mandiri yang mendaur ulang nutrisi, membuat blooms bertahan tanpa henti.
- Dampak meluas ke pariwisata, perikanan, dan kesehatan, namun potensi pemanfaatan sebagai biofuel dan pupuk mulai dijajaki.

Liburan di pantai tropis yang sempurna berubah menjadi mimpi buruk saat tumpukan rumput laut coklat berbau busuk menyelimuti garis pantai—pemandangan yang kian umum sejak 2011 dan kini diprediksi akan terus berulang tanpa henti. Great Atlantic Sargassum Belt, wilayah yang membentang dari Afrika Barat hingga Teluk Meksiko, telah menjadi pusat ledakan biomassa laut yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Fenomena ini bukan sekadar gangguan estetika. Bagi masyarakat pesisir di Karibia, Florida, dan Amerika Tengah, sargassum mengancam mata pencaharian. Pelabuhan tersumbat, perikanan terganggu, dan saat membusuk, rumput ini melepaskan gas beracun seperti hidrogen sulfida, amonia, dan metana—berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Sekitar 37,5 juta ton sargassum diperkirakan mengapung di Atlantik pada tahun 2025, dengan ramalan menunjukkan musim panas 2026 bisa memecahkan rekor baru.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan mencari penyebab ledakan ini. Awalnya diduga kuat aktivitas manusia—pupuk dari sungai Amazon dan Kongo, debu Sahara, atau perubahan suhu laut. Namun, tak satu pun hipotesis mampu menjelaskan variasi tahunan secara utuh. Kini, penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh tim oseanografer mengungkap mekanisme berbeda: sargassum telah menciptakan siklus mandiri yang terus memperkuat dirinya sendiri.
Semua bermula pada musim dingin 2010, ketika angin kencang mendorong sargassum dari Laut Sargasso ke Atlantik tropis. Angin ini juga mengaduk air laut sehingga nutrisi dari kedalaman naik ke permukaan, memicu pertumbuhan alga. Namun yang lebih krusial, hamparan sargassum bukan sekadar tanaman mati. Ia adalah "kota terapung" yang dihuni ikan, udang, kepiting, dan mikroorganisme. Ekosistem ini—disebut sargassumsphere—mengumpulkan makanan dari area luas dan mendaur ulang nutrisi lewat kotoran dan sisa-sisa organisme. Nutrisi yang terkonsentrasi inilah yang menyuburkan generasi berikutnya, menciptakan siklus yang hampir tak terputus.
Untuk menguji teori ini, para peneliti mengembangkan model matematika yang mengintegrasikan data nitrogen dari sampel sargassum di Kepulauan Virgin AS. Hasilnya, model tidak hanya mereproduksi ledakan tahun 2011–2022, tetapi juga berhasil memprediksi ukuran dan evolusi blooms pada 2023 dan 2024. Ini mengonfirmasi bahwa Great Atlantic Sargassum Belt kemungkinan besar akan menjadi fitur permanen di Atlantik. “Kami menyaksikan pergeseran fundamental,” ungkap seorang peneliti. “Pemicu utama kini bukan lagi faktor eksternal, melainkan dinamika internal ekosistem itu sendiri.”
Bagi Indonesia, meskipun tidak berada di kawasan utama sargassum, ancaman serupa perlu diwaspadai. Perairan Nusantara yang kaya akan keanekaragaman hayati laut rentan terhadap invasi alga jika perubahan iklim dan eutrofikasi terus berlanjut. Pariwisata bahari Indonesia—dari Bali hingga Raja Ampat—bisa terimbas jika fenomena serupa muncul. Pemerintah dan komunitas ilmiah perlu mulai memantau potensi ledakan sargassum di perairan Indonesia, serta menjajaki pemanfaatan rumput laut sebagai sumber daya bernilai.
Di sisi lain, sargassum menyimpan peluang ekonomi. Biomassa ini kaya karbohidrat dan dapat dikonversi menjadi bioetanol, biogas, atau hidrogen. Di Barbados, ilmuwan mengembangkan biofuel dari campuran sargassum dan limbah industri rum lokal. Sargassum juga berpotensi sebagai pupuk organik setelah diproses menghilangkan garam dan logam berat. Di Meksiko, bahan bangunan seperti bata ringan yang mengandung 40% sargassum mulai dikembangkan. Penggunaan sargassum sebagai bahan baku konstruksi dapat mengurangi ketergantungan pada material konvensional yang intensif karbon.
Pertanyaan kini beralih: akankah sargassum menjadi bencana kronis yang tak terhindarkan, atau justru menjadi pendorong inovasi hijau bagi negara-negara tropis? Dengan pemahaman yang lebih baik tentang siklus mandirinya, sistem peringatan dini dapat dibangun untuk meminimalkan dampak negatif, sementara riset pemanfaatan terus digalakkan. Indonesia, dengan pengalaman mengelola rumput laut sebagai komoditas ekspor, bisa mengambil peran dalam mengubah ancaman ini menjadi kesempatan.



